my-indonesia.info, menelusuri dalang 17.5 milyar Tuesday, Dec 11 2007 

17,5 Milyar rupiah untuk website my-indonesia.info ? Pasti semua orang protes. Duit segitu diapain aja. Untuk itu kita telusuri kisah pewayangan dan dalang dari situs ini.

Pertama, klaim seperti yang dimuat di detikinet, bahwa website ini ditampung empat negara, yakni di Amerika Serikat (Benua Amerika), Singapura (Asia), Eropa, dan Australia. mari kita buktikan melalui catatan DNS server. Jika memang benar servernya ada empat (untuk mirroring), sehingga benua lain tetap cepat mengaksesnya, semestinya “A” record-nya juga tidak cuma satu. Sebagai contoh, bandingkan result google.com dan my-indonesia.info

image image

Dari A record, google yang servernya banyak, memunculkan 3 buah IP address, artinya bisa diakses ke tiga-tiganya. Sementara my-indonesia.info hanya memuat 1 IP address saja. Bagaimana jika IP address ini diserang? atau ada error di jaringan? Ya tentu website akan langsung down. IP 203.211.140.139 adalah IP address di Singapura, yakni di Qala data center. Konon sih (bisa diklarifikasi ulang), Qala adalah data center termurah di Singapura, karena backbone mereka yang tidak sekuat data center yang lain. Setahu saya, untuk sewa satu rack di data center Qala adalah sekitar 900 dolar Singapura, atau kira-kira 5,8 juta rupiah per bulan.

Khusnudzon (prasangka baik) saya, kementrian pariwisata sewa selama 10 tahun langsung kali :), makanya dananya begitu besar !!!

Jadi klaim server di empat benua, saya ragukan. Coba kita telusur lagi di DNSnya.

image image

Aha, mungkin ini jawabannya, bukan servernya yang ditaruh di empat benua, tapi DNS servernya, meski dalam hal ini cuma dua, satu di UK, satu lagi di Australia. Memang DNS server yang makin dekat dengan user yang mengakses, akan mempercepat respon, tapi hanya respon query DNS, kira-kira kecepatan mencari alamat yang tepat dari buku telepon, selebihnya kecepatan website tergantung kecepatan dari server yang di Singapura. (sudah saya tes, via proxy di jerman, untuk membuka blog ini sama situs my-indonesia.info lebih cepat blog ini ..he..he..).

Sekarang, coba kita telusuri kapankah domain ini dibuat?

image Walaw e…  !!! Ternyata domainnya dibuat hampir empat tahun yang lalu. Artinya biaya 17.5 milyar ini dipake selama empat tahun, dan baru dipublikasikan sekarang. Hebatnya lagi, dipublikasikan kira-kira dua bulan sebelum domain ini expired. Ampuh tenan !!!

Opo tumon??? Sebuah website sampe empat tahun, baru menjelang domainnya kadaluarsa websitenya baru nongol. KECUALI domain ini dibeli seseorang, misal pengusaha hotel wisata mana gitu, abis itu dijual ke pemerintah sebesar 1 milyar :-D. Eh, jangan-jangan memang benar, yang beli domain ini tadinya pengusaha hotel. Mari kita telusuri kembali.

image Nampaknya indo.com selaku pemilik DNS dari situs my-indonesia.info adalah pengusaha hotel. Semua website yang ditampung di servernya adalah tentang hotel.

Eits…tunggu dulu, beberapa banyak website yang saya tes dari server ini, ternyata isinya cuma iklan ad-sense. Gak ada situs hotel beneran di sana. Wah jadi curiga nih, siapa sebenarnya pelakunya???

Ataukah mereka cuma pencari untung dari domain name? Wallahu a’lam

Kita lanjutkan petualangan kita, jadi kira-kira siapa sebenarnya “dalang” dari 17.5 milyar ini? Sebuah website yang butuh waktu 4 tahun sebelum diluncurkan, yang bahkan sejak sebelum SBY jadi presiden, domainnya sudah dibeli. Adakah nuansa “gelap-gulita” (udah, baca aja korupsi !!!) menyelimuti website ini? Perlukah saya lapor ke SBY? Kalau website ini penuh dengan “hal-hal aneh” !

Jawabnya: saya tidak tahu ! 😀

UPDATE:
Saya baru nemu lagi catatan yang lain. my-indonesia.info juga dihost di USA, hanya saja di bawah subdomain us.my-indonesia.info. Dari catatan servernya, nampaknya dahulu my-indonesia.info juga pernah di host kesana, begitu pula dengan indonesia.travel. Tapi sekarang sudah dipindah di Asia Tenggara (Singapura), mungkin mereka merasa aksesnya lambat, karena web-web tercantum di bawah ini diaksesnya dari Singapura pun relatif lambat sekali. (catatan: hanya blogs dan forum [dot] my-indonesia.info dan indonesiatourisminfo.com, dan my-indonesia.com yang masih di host di sana, selainnya sudah dipindahkan ke Singapura atau malah sudah mati).

image image

Whois dari my-indonesia.com memang menunjukkan yang punya orang spesialis iklan dan pariwisata.

Tree Top Walk Tuesday, Oct 30 2007 

Hari ahad kemarin, saya menyempatkan untuk jalan ke HSBC Tree Top Walk, yakni jembatan yang membentang menghubungkan pohon satu dengan pohon lain di dekat kawasan MacRitchie Reservoir.

Perjalanan yang cukup lumayan membuat basah hampir seluruh baju saya. Sebenarnya selama perjalanan, cukup mengingatkan saya akan kawasan kaki Merapi di Sleman sana, ada selokan kecil yang mengalir air cukup jernih, kemudian beberapa pohon salak dan daun talas yang besar-besar. Meski tentu saja, "hawa"nya tidak sesejuk di Sleman sana, namanya saja Singapura, sesejuk-sejuknya tetap saja panas.

Perjalanan memang tidak terlalu menantang, setidaknya tanjakan yang dilalui tidaklah terjal, dan karena memang tempatnya sudah didesain untuk kawasan wisata, tentu saja suasana alaminya tetap saja difasilitasi oleh "fasilitas". Selama perjalanan, saya banyak menemui monyet-monyet yang nampak cukup jinak, meski sesekali mereka berusaha "mencuri" makanan yang sedang kita makan. Dan cukup banyak orang bule yang juga jalan-jalan di wilayah ini. Sebenarnya kalau mau membandingkan, tentu tidak ada apa-apanya ketimbang wilayah Sleman, tapi ya itu tadi, kita belum cukup mampu mengemas dengan baik seperti Singapura.

Klimaks perjalanan ini adalah Tree Top Walk, yakni jembatan baja yang menghubungkan dua bukit dan jembatan ini berada di wilayah "tertinggi" sehingga beberapa kawasan nun jauh di sana dapat kita lihat.

Blereng mripate Jembatan Gantung bersling baja

Say cheese MacRitchie Reservoir

Setelah itu, sebenarnya pingin ke MacRitchie Reservoir, tapi karena perjalananannya sendiri menempuh sekitar 4.3 km lagi, sementara jam sudah menunjukkan 10.30 lebih, akhirnya diputuskan untuk pulang saja. Lain kali ada kesempatan, berkunjung ke reservoirnya.

Akhirnya, ke Singapore Zoo juga Sunday, Oct 14 2007 

Setelah sekian lama, dan tidak pernah terlaksana, akhirnya kami jadi juga pergi ke Singapore Zoo. Berawal dari perbincangan dengan teman satu flat saat naik taksi dalam perjalanan menuju KBRI Singapura, untuk mengisi hari Ahad atau hari kedua lebaran kali ini, tiba-tiba tercetus ide untuk pergi ke Zoo.

Alhamdulillah, rencana yang cuma satu hari malah akhirnya terlaksana. Siang hari ini sampai sore tadi, saya dengan istri dan keluarga teman saya pergi ke Zoo. Meski di awal keberangkatan kami sempat senewen, karena taksi yang ditelpon dan dijanjikan datang dalam waktu 7 menit, sampai lebih dari 15 menit lebih gak datang-datang.

Sampai di sana, beli tiket yang memang cukup mahal sih sebenarnya untuk ukuran saya (hiks …), sama istri berdua plus tiket naik Tram (macam kereta kecil gitu) kita keluar S$ 43. Suasana kebun binatang singapura memang secara sekilas langsung nampak berbeda dengan Indonesia, seperti yang bisa ditebak: lebih bersih, lebih rapi, dan lebih teratur. Tapi sebenarnya kalau berbicara masalah koleksi binatang, kebun binatang di Indonesia pun lebih banyak variasi dan jumlahnya, hanya memang dari sisi penataan kita nggak ada apa-apanya.

Singapore Zoo sendiri tidaklah sebesar yang saya bayangkan, dari peta yang kami punya, pertama kali kita membayangkan bahwa kebun binatang ini akan berukuran cukup besar, sehingga kita memutuskan untuk naik tram, eh ternyata setelah masuk, boleh dibilang cukup kecil, bahkan dibandingkan dengan kebun binatang Gembira Loka di Jogja, lebih besar di sana.

PA140278Masuk ke sana, kita langsung disambut dengan jembatan kayu untuk melintasinya, dan di atasnya ada siamang yang sedang bergelantungan. Jalan sebentar, akhirnya kita naik ke Tram.

Gini nih tampak sampingnya, sebuah kereta mini, dengan dua gerbong, dengan mesin penggerak berbasis listrik. Alhamdulillah kita naik tram, karena sesaat setelah kita jalan, hujan deras datang. Mirip kalau naik becak, saat hujan deras, plastik penutup pun diturunkan. Setelah berputar-putar sejenak, akhirnya satu putaran pun berakhir.

PA140295 Selepas istirahat sejenak, kita menonton gajah yang mau dijadikan tunggangan buat difoto, karena cukup mahal, kita cukup puas melihat gajahnya saja.

Yang menarik, semua pawangnya orang-orang India, dan mereka memerintahkan gajahnya juga dengan bahasa tamil (dari yang kudengar), mungkin gajahnya juga dari India kali ;-). 

 

PA140325 Perjalanan kita lanjutkan untuk melihat macan putih. Keren, badannya gedhe-gedhe banget, dan terlihat kelaparan he..he..

Dari ceritanya sih, tidak ada lagi macan putih yang saat ini hidup di habitat aslinya, alias semua macan putih yang ada di dunia ini, hanya ada di kebun binatang. Dan ternyata juga baru tahu, bahwa yang namanya macan hanya ada di benua Asia saja, di Afrika adanya Singa gak ada macan gitu.

Dari tempat macan kita jalan untuk ngliat kudanil yang baru berenang, di sini, kudanil ditempatin di tempat semacam akuarium raksasa, jadi semua pergerakannya bisa kita lihat dari samping. Kalau diliat dari atas, gak ada bedanya antara kudanil dengan batu hitam 🙂 karena kita juga sempat kesulitan mencari mana kudanil dan mana batu hitam.

Capek, istirahat sebentar, dan kita menemukan paviliun di samping danau untuk mengerjakan sholat dzuhur. Alhamdulillah, paviliunnya sepi sekali, jadi kita bisa sholat dengan nyaman. Sebelumnya beberapa lembar koran kubawa dengan niat siapa tahu bisa cari tempat makan yang nyaman, tapi karena kita juga pada ngemil, korannya kita jadikan alas sajadah sholat. Habis sholat, berfoto bersama ! Hanya saja karena di dekat paviliun semuanya pohon-pohon besar, jadi danaunya sedikit terhalang. 

PA140371

Perjalanan masih berlanjut ke beruang kutub. Ya, beruang kutub yang terdampar di wilayah tropis. Sebenarnya kasihan juga, ada beruang kutub kok di wilayah tropis, tapi katanya sih beruangnya lahir di Singapura gitu. Untuk menjaga agar dia tetap sehat, air conditioner yang diset 16 derajad celcius senantiasa dihembuskan ke dalam kandang dia. Jalan-jalan masih berlanjut, ada badak, rusa, dll, ya setidaknya cukup puas lah. Biaya yang sedikit mahal yang kita keluarkan cukup worth it dengan apa yang kita dapatkan. Suasanya yang nyaman, pedagang yang tertib, toilet yang bersih, meskipun tetap saja panas, namanya saja Singapura, sebanyak apa pun pohon besar yang ditanam, tetap saja panas sekali. Saya yakin, jika kebun binatang kita di Indonesia lebih berbenah, daya tariknya akan jauh melampaui Singapore Zoo (iya kan?! )

PA140429 

Album selengkapnya (kalau mau lihat 🙂 ) ada di sini.