Jalan ke China Town Saturday, Dec 8 2007 

DSC_0665 Hari Sabtu siang ini, saya menyempatkan jalan-jalan dengan istri, pergi ke China Town, untuk cari souvenir dan berburu “objek”.

Sebenarnya siang tadi sempat ragu untuk berangkat tidaknya, karena cuaca yang agak mendung, dan ketika saya melihat awan di daerah timur dari balkon flat saya, kelihatannya cukup tebal. Tapi setelah beberapa saat, ternyata cuaca di sekitar flat saya cukup bersahabat, saya asumsikan di daerah timur pun, cuaca lumayan terang. Akhirnya kita putuskan untuk berangkat ke sana.

Berangkat sekitar pukul setengah tiga siang dari rumah, sampai ke China Town sekitar pukul 3.15pm. Sampai di sana, istri segera “berburu” souvenir buat oleh-oleh dan kado nikah salah seorang kawan, sementara saya “berburu” hal yang lain, yang kalau saya bilang, berburu fokus+blur. Maklum, saya masih belajar bagaimana fotografi yang bagus, membuat blur background dan fokus foreground, atau sebaliknya.

Beberapa saat setelah jalan, sekitar jam setengah lima sore pas waktu ashar, mampir ke masjid Chulia (atau masjid hijau, karena semua bangunannya dominan dengan warna hijau) untuk sholat ashar, sekaligus untuk beristirahat sejenak mengistirahatkan kaki.

Ada hal yang menarik ketika tadi jalan-jalan, meski secara umum porstitusi adalah ilegal di Singapura, tapi tetap saja porstitusi ini tetap ada. Kalau di Singapura, banyak ditemui di Geylang (katanya….. saya sendiri nggak belum pernah kesana he..he..). Nah tadi siang pun saya dan istri melihat dengan senyum kecut kejadian yang menurut saya lucu. Ada apek (orang Cina yang sudah tua), saya perkirakan sudah di atas 70 tahun, mojok, bermesraan dengan wanita cina juga yang masih muda. Tanpa sengaja kita melihat sewaktu jalan di jembatan penyebrangan (jembatan yang sangat luas tapi), dua orang ini sedang mojok bermesraan, bahkan orang di samping kita pun juga komentar yang sama (pake bahasa mandarin mereka ngomongnya, tapi karena mereka juga melihat apek ini tadi, dan sambil berucap “apek“, maka dapat saya perkirakan mereka sedang ngomentari apek yang sedang mojok tadi). Saya dan istri cuma berujar ,”Ya Alloh, sudah sepuh sekali gitu, lha kok ya masih sempat-sempatnya ‘main-main’ gituan …”.

Intinya, jika anda besok sempat pergi ke Singapura, jalan-jalan ke China Town cukup menarik lah (despite of Apek yang kita lihat barusan), cari makanan yang halal (bagi muslim) juga relatif mudah, dan jika anda punya kamera yang bagus, konon di China Town adalah salah satu objek terbaik di Singapura untuk dijepret dengan kamera.

Foto selengkapnya dapat dilihat di alamat ini: http://www.flickr.com/photos/teladan98

Advertisements

Negri tanpa musim Tuesday, Nov 27 2007 

Jika anda sempat untuk pergi jalan-jalan ke Singapura, mungkin akan anda temukan “suasana” cuaca yang sedikit berbeda dengan di Indonesia pada umumnya. Di Singapura, cuaca boleh dibilang cukup “aneh”, barangkali mungkin karena letak geografisnya yang di katulistiwa.

Contoh cuaca yang aneh misalnya, dalam satu wilayah kecil dengan radius kira-kira hanya 3 km, sangat mungkin sekali terjadi di satu tempat hujan sangat deras sekali, sementara di tetangga sebelah, panas ngenthang-ngenthang, alias panas sekali. Hal yang jarang saya temui di Indonesia. Pernah suatu ketika saya sholat Jum’at di masjid, yang saat itu hujan deras luar biasa, selesai Jum’atan waktu balik ke kampus NTU, ternyata cuaca terang benderang, panas, dan tidak nampak sisa hujan barang sedikitpun, padahal jarak antara masjid dengan kampus kira-kira hanya sekitar 3 km (pake hitungan jalan raya, kalau ditarik garis lurus mungkin kurang dari 2 km).

Hujan di sini juga bisa turun kapan pun, tahu-tahu langit jadi hitam kelam, padahal tadinya panas sekali, dan dalam waktu singkat hujan turun dengan derasnya. Boleh dibilang kejadian ini berlaku sepanjang tahun, meski hujan memang lebih banyak turun di akhir tahun. Maka tidak heran, jika kemana-mana banyak orang Singapura, termasuk juga saya, kemana-mana selalu membawa payung. Karena memang suka tidak suka, siap tidak siap, kapan pun hujan bisa datang.

Beda dengan waktu di Jogja, kalau nggak musim hujan, ya bisa diperkirakan kalau cuaca bakalan panas, tidak perlu membawa payung, jas hujan, mantel, ponco, dll. Sebaliknya kalau musim hujan, ya harus siap setiap saat. Tapi di Singapura, kapan pun sebaiknya kita membawa payung. Karena di sini memang hujan turun sepanjang tahun. Meski anehnya, cuacanya tetap puaaaaanaaassss sekali.

So, jika berminat berkunjung ke Singapura (terutama buat teman-teman kronologger yang tahun depan mau nonton F1 di Singapura), jangan lupa pake payung, kalau jalan-jalan pake kaos katun yang nyaman, karena cuaca bakalan panas, dan pake sepatu yang kuat, karena harus siap-siap jalan kemana-mana (tapi jadi sehat kok …)

Free WiFi di Bus Singapura, betulkah diperlukan? Sunday, Nov 11 2007 

Tadi pagi saya pergi berkunjung ke rumah kawan yang berada di sekitar daerah Bedok, Singapura. Dalam perjalanan ke sana, turun dari MRT saya menuju ke terminal bus.

Sejenak saya perhatikan ada yang beda, ternyata ada baliho yang memberitahu ke khalayak bahwa bus nomor 14 sekarang diberikan fasilitas WiFi gratis, yang bisa dipergunakan oleh pengguna bus untuk mengakses Internet. Begitu saya pulang menuju ke rumah, saya perhatikan, di terminal bus Boon Lay tempat saya menunggu Bus untuk pulang ke rumah, juga ada spanduk yang sama (tidak saya perhatikan ketika berangkat pagi harinya). Ada dua bus yang diberikan fasilitas WiFi, yakni 179 yang ke NTU dan 242 yang ke arah perumahan HDB Jurong West. Akses WiFi ini memungkinkan karena ada perangkat HSPDA yang diinstalasi di bus, dan kemudian dikoneksikan dengan wireless access point.

Satu lagi akses WiFi bebas yang dapat dipergunakan, meski sebenarnya juga banyak yang mempertanyakan kemanfaatannya. Karena seperti bus 242 dan 179 yang kalau pas jam penuh, naudzubillah padatnya, semua berdesak-desakan, empet-empetan walau jumlah busnya banyak, tetap saja tidak pernah bisa sepi. Jadinya kapan kesempatan bisa ngenet dengan nyaman?

Dengan kondisi berdesak-desakan yang seperti itu, tidak mungkin kita bisa membuka laptop kita, paling banter jika pengguna bus menggunakan semacam PDA atau Handphone berWiFi, yang hanya sebagian kecil pengguna bus yang memilikinya, yang tentu tidak senyaman laptop jika kita ingin mengakses banyak hal. Lagipula jarak antara Boon Lay dengan NTU yang relatif dekat (sekitar 45 menit maksimal 1 jam total perjalanan PP) atau bus 242 yang ke arah Jurong West yang juga bukan merupakan jarak yang jauh, tentu tidak terlalu nyaman untuk berinternet, paling banter cuma buat ngekron 🙂

Tapi namanya saja Singapura, yang penting terkenal dulu, walaupun ntar juga nggak dipake ..he..he.. 😉

Gambar dari sini.

Tree Top Walk Tuesday, Oct 30 2007 

Hari ahad kemarin, saya menyempatkan untuk jalan ke HSBC Tree Top Walk, yakni jembatan yang membentang menghubungkan pohon satu dengan pohon lain di dekat kawasan MacRitchie Reservoir.

Perjalanan yang cukup lumayan membuat basah hampir seluruh baju saya. Sebenarnya selama perjalanan, cukup mengingatkan saya akan kawasan kaki Merapi di Sleman sana, ada selokan kecil yang mengalir air cukup jernih, kemudian beberapa pohon salak dan daun talas yang besar-besar. Meski tentu saja, "hawa"nya tidak sesejuk di Sleman sana, namanya saja Singapura, sesejuk-sejuknya tetap saja panas.

Perjalanan memang tidak terlalu menantang, setidaknya tanjakan yang dilalui tidaklah terjal, dan karena memang tempatnya sudah didesain untuk kawasan wisata, tentu saja suasana alaminya tetap saja difasilitasi oleh "fasilitas". Selama perjalanan, saya banyak menemui monyet-monyet yang nampak cukup jinak, meski sesekali mereka berusaha "mencuri" makanan yang sedang kita makan. Dan cukup banyak orang bule yang juga jalan-jalan di wilayah ini. Sebenarnya kalau mau membandingkan, tentu tidak ada apa-apanya ketimbang wilayah Sleman, tapi ya itu tadi, kita belum cukup mampu mengemas dengan baik seperti Singapura.

Klimaks perjalanan ini adalah Tree Top Walk, yakni jembatan baja yang menghubungkan dua bukit dan jembatan ini berada di wilayah "tertinggi" sehingga beberapa kawasan nun jauh di sana dapat kita lihat.

Blereng mripate Jembatan Gantung bersling baja

Say cheese MacRitchie Reservoir

Setelah itu, sebenarnya pingin ke MacRitchie Reservoir, tapi karena perjalananannya sendiri menempuh sekitar 4.3 km lagi, sementara jam sudah menunjukkan 10.30 lebih, akhirnya diputuskan untuk pulang saja. Lain kali ada kesempatan, berkunjung ke reservoirnya.

Dukungan untuk kaum difabel (disabled) Tuesday, Oct 23 2007 

HPIM0548_en2

Kaum difabel (atau disabled di istilah Inggrisnya) memang mendapat perhatian tersendiri, setidaknya itulah yang saya dapatkan di negri Singapura ini. Meski jika diprosentase, barangkali jumlah mereka tidak terlalu banyak, tapi perhatian pemerintah lokal, yang kemudian kebijakan ini diendorse untuk dilaksanakan di setiap pengelola gedung dan akses publik lainnya, betul-betul memperhatikan kaum difabel ini.

Singapura memang bukan negara penganut demokrasi, tapi meskipun demikian, bukan berarti tidak ada perhatian terhadap rakyat. Hal yang mungkin sangat jauh berbeda dengan Indonesia yang penganut demokrasi, pmpakan tetapi karena demokrasi lah, keberadaan kaum ini menjadi terabaikan. Mengapa? karena demokrasi tadi, suara mereka yang sedikit tentu akan kalah denga suara para preman yang lain.

Kepentingan orang-orang ini menjadi terabaikan, bahkan segala sesuatunya hanya menjadi teori PMP (pendidikan moral pancasila) atau PPKN (pendidikan pancasila dan kewarganegaraan) yang saya masih ingat ketika ada kawan yang dapat nilai PPKN tinggi, maka lontaran "Munafik !" (tentu sambil bercanda) terlontar kepada dia. Jadi ingat, saya dulu pernah kena Her (mengulang ujian) PPKN saat kelas satu SMA. Teori yang mengatakan harus membantu orang yang butuh (misal: cacat, orang tua, ibu hamil, dll) ketika mereka membutuhkan bantuan seperti saat menyeberang jalan, duduk di transportasi umum, dll, yang pada kenyataannya tidak pernah kita laksanakan.

Sedikit berbagi, jika anda sempat berkunjung ke Singapura, niscaya akan anda dapati di wilayah publik seperti Stasiun MRT, gedung-gedung, toilet, dan lain sebagainya, akan selalu ada akses bagi kaum difabel ini. Dimulai dari jalan yang khusus disediakan untuk mereka, kemudian ubin yang berbeda dengan jalur umum untuk memudahkan orang yang buta agar juga bisa ikutan ke MRT, kemudian di bus-bus yang baru juga didesain untuk kenyamanan bagi pengguna kursi roda. Bahkan, di tempat ibadah seperti masjid pun (yang bisa anda lihat di gambar atas), juga disediakan tempat bagi para difabel.

Ketika kita kembali kepada ISLAM, kita pun juga diberikan pelajaran, betapa Rasulullah Muhammad SAW pun juga pernah diperingatkan oleh Allah SWT, ketika saat itu lebih memilih untuk berbincang ke petinggi Quraisy ketimbang berbicara dengan seorang buta yang bernama Abdullah Ibnu Ummi Maktum. Dari situ dapat kita lihat, penghargaan terhadap kaum difabel pun sangat diperhatikan oleh Allah SWT.

Kira-kira kapan penghargaan itu bisa diberikan oleh rakyat dan penguasa Indonesia?

Akhirnya, ke Singapore Zoo juga Sunday, Oct 14 2007 

Setelah sekian lama, dan tidak pernah terlaksana, akhirnya kami jadi juga pergi ke Singapore Zoo. Berawal dari perbincangan dengan teman satu flat saat naik taksi dalam perjalanan menuju KBRI Singapura, untuk mengisi hari Ahad atau hari kedua lebaran kali ini, tiba-tiba tercetus ide untuk pergi ke Zoo.

Alhamdulillah, rencana yang cuma satu hari malah akhirnya terlaksana. Siang hari ini sampai sore tadi, saya dengan istri dan keluarga teman saya pergi ke Zoo. Meski di awal keberangkatan kami sempat senewen, karena taksi yang ditelpon dan dijanjikan datang dalam waktu 7 menit, sampai lebih dari 15 menit lebih gak datang-datang.

Sampai di sana, beli tiket yang memang cukup mahal sih sebenarnya untuk ukuran saya (hiks …), sama istri berdua plus tiket naik Tram (macam kereta kecil gitu) kita keluar S$ 43. Suasana kebun binatang singapura memang secara sekilas langsung nampak berbeda dengan Indonesia, seperti yang bisa ditebak: lebih bersih, lebih rapi, dan lebih teratur. Tapi sebenarnya kalau berbicara masalah koleksi binatang, kebun binatang di Indonesia pun lebih banyak variasi dan jumlahnya, hanya memang dari sisi penataan kita nggak ada apa-apanya.

Singapore Zoo sendiri tidaklah sebesar yang saya bayangkan, dari peta yang kami punya, pertama kali kita membayangkan bahwa kebun binatang ini akan berukuran cukup besar, sehingga kita memutuskan untuk naik tram, eh ternyata setelah masuk, boleh dibilang cukup kecil, bahkan dibandingkan dengan kebun binatang Gembira Loka di Jogja, lebih besar di sana.

PA140278Masuk ke sana, kita langsung disambut dengan jembatan kayu untuk melintasinya, dan di atasnya ada siamang yang sedang bergelantungan. Jalan sebentar, akhirnya kita naik ke Tram.

Gini nih tampak sampingnya, sebuah kereta mini, dengan dua gerbong, dengan mesin penggerak berbasis listrik. Alhamdulillah kita naik tram, karena sesaat setelah kita jalan, hujan deras datang. Mirip kalau naik becak, saat hujan deras, plastik penutup pun diturunkan. Setelah berputar-putar sejenak, akhirnya satu putaran pun berakhir.

PA140295 Selepas istirahat sejenak, kita menonton gajah yang mau dijadikan tunggangan buat difoto, karena cukup mahal, kita cukup puas melihat gajahnya saja.

Yang menarik, semua pawangnya orang-orang India, dan mereka memerintahkan gajahnya juga dengan bahasa tamil (dari yang kudengar), mungkin gajahnya juga dari India kali ;-). 

 

PA140325 Perjalanan kita lanjutkan untuk melihat macan putih. Keren, badannya gedhe-gedhe banget, dan terlihat kelaparan he..he..

Dari ceritanya sih, tidak ada lagi macan putih yang saat ini hidup di habitat aslinya, alias semua macan putih yang ada di dunia ini, hanya ada di kebun binatang. Dan ternyata juga baru tahu, bahwa yang namanya macan hanya ada di benua Asia saja, di Afrika adanya Singa gak ada macan gitu.

Dari tempat macan kita jalan untuk ngliat kudanil yang baru berenang, di sini, kudanil ditempatin di tempat semacam akuarium raksasa, jadi semua pergerakannya bisa kita lihat dari samping. Kalau diliat dari atas, gak ada bedanya antara kudanil dengan batu hitam 🙂 karena kita juga sempat kesulitan mencari mana kudanil dan mana batu hitam.

Capek, istirahat sebentar, dan kita menemukan paviliun di samping danau untuk mengerjakan sholat dzuhur. Alhamdulillah, paviliunnya sepi sekali, jadi kita bisa sholat dengan nyaman. Sebelumnya beberapa lembar koran kubawa dengan niat siapa tahu bisa cari tempat makan yang nyaman, tapi karena kita juga pada ngemil, korannya kita jadikan alas sajadah sholat. Habis sholat, berfoto bersama ! Hanya saja karena di dekat paviliun semuanya pohon-pohon besar, jadi danaunya sedikit terhalang. 

PA140371

Perjalanan masih berlanjut ke beruang kutub. Ya, beruang kutub yang terdampar di wilayah tropis. Sebenarnya kasihan juga, ada beruang kutub kok di wilayah tropis, tapi katanya sih beruangnya lahir di Singapura gitu. Untuk menjaga agar dia tetap sehat, air conditioner yang diset 16 derajad celcius senantiasa dihembuskan ke dalam kandang dia. Jalan-jalan masih berlanjut, ada badak, rusa, dll, ya setidaknya cukup puas lah. Biaya yang sedikit mahal yang kita keluarkan cukup worth it dengan apa yang kita dapatkan. Suasanya yang nyaman, pedagang yang tertib, toilet yang bersih, meskipun tetap saja panas, namanya saja Singapura, sebanyak apa pun pohon besar yang ditanam, tetap saja panas sekali. Saya yakin, jika kebun binatang kita di Indonesia lebih berbenah, daya tariknya akan jauh melampaui Singapore Zoo (iya kan?! )

PA140429 

Album selengkapnya (kalau mau lihat 🙂 ) ada di sini.

Idul Fitri di KBRI Singapura, 13 Oktober 2007 Sunday, Oct 14 2007 

PA130190
*: gambar Istri yang nenteng tas plastik kuning

Lebaran 1 Syawal 1428 H kali ini, sekali lagi saya beridul fitri di KBRI Singapura. Tidak seperti tahun lalu yang sendirian, kali ini saya sudah didampingi istri ;-). Sholat Id-nya sendiri dilaksanakan mulai pukul 8.15 pagi waktu Singapura, kelihatannya sih tahun ini jama’ah yang hadir lebih banyak, saya saja yang hadir pukul 7.30pun nyaris tidak dapat tempat untuk duduk. Kali ini, KBRI mengundang Drs. Asep Zaenal Ausop yang merupakan dosen ITB (kata temen alumni ITB sih dosen Agama di sana). Cukup berbeda dengan tahun lalu, kali ini khutbahnya begitu berbobot, khutbah yang penuh muhasabah dan refleksi diri. Salut untuk yang ini.

Selesai sholat, seperti tahun lalu, acara yang ditunggu-tunggu tentu saja acara Open House. Hanya saja kali ini sedikit berbeda dengan tahun lalu yang diadain di Aula Riptaloka, sekarang acaranya dipindah di rumahnya pak Dubes. Menunya di antaranya ada tape ketan hitam, kue kastangel, abis itu ada sate padang, dan ada sate “asli” tentu saja yang paling ditunggu-tunggu (maklum, di singapura satenya manis semua). Tapi kali ini, hujan yang cukup deras terjadi setelah selesainya sholat ied, sehingga kita makan-makan ditemani hujan deras (demi sekian tusuk sate, harus berlari menembus hujan :-D).

Di tengah hujan yang deras, ternyata kawan Muslim dari Myanmar ternyata juga ikutan ke KBRI, begitu juga ada kawan dari Prancis. Cukup lama kita berbincang, mulai dari cerita kawan saya yang dari myanmar yang baru saja menikah, kemudian cerita situasi politik di sana, dan lain-lain. Sementara dengan kawan dari prancis, perbincangan kita lebih bernuansa hal-hal ringan dan lucu tentang komunitas muslim. Yang menarik, karena kami ngobrolnya dekat dengan rombongan mbak-mbak PLRT (penata laksana rumah tangg alias TKW gitu), mereka jadi tertarik dengan orang prancis yang ngobrol dengan saya. Jadilah dia artis dadakan yang dimintai foto bersama.

Setelah itu, rencana saya dan istri untuk pulang lebih cepat pun jadi batal, karena sebenarnya kita mau ikutan acara syawalan di Bukit Batok jam 12. Karena sampe jam 10 hujan masih deras, ya sudah terpaksa ditunda sampai jam 11, itu pun ternyata masih hujan deras, tapi karena istri “ketanggungan” bawa krupuk buat acara syawalan, ya terpaksa naik taksi deh. 

Alhamdulillah, kita setidaknya dapat menikmati dengan baik acara demi acara di KBRI, walaupun hujan, tapi suasana lebaran Indonesia setidaknya bisa terobati karena kami tidak bisa pulang ke Indonesia kali ini. 

Ada "Udang" dibalik "Bawang" Monday, Sep 17 2007 

1): Harap dibaca di footnote yah !

Jika anda pernah berkunjung ke Singapura, dan mungkin menyempatkan diri untuk datang di Mustafa Center (toko segala aya di Singapura, 24 jam non stop), dan kebetulan anda datang di akhir pekan, sore hari, niscaya anda akan mendapati "jutaan" orang India yang ada di sana, sampai-sampai anda mungkin lupa dan bertanya, "Apakah saya masih di Singapura? Kok semuanya jadi India ?"

Sudah beberapa kali saya ke Mustafa, entah belanja sendiri, atau mengantar teman/saudara untuk belanja ke sana. Tapi yang jelas, saya memang nggak suka datang di akhir pekan, karena Mustafa bakal dipenuhi oleh orang India. Saya tidak bermasalah dengan banyaknya orang India yang ada di sana. Tapi biasanya saya sampai ke sana bakalan pusing dan mual. Kenapa? 😀 Jika anda pernah bertemu atau akrab dengan orang India, anda akan bisa merasakan adanya "fragrant"2) yang khas (dan aneh) dari mereka.

Dari dulu mencoba mencari tahu, kenapa orang India (yang asli India, bukan India Singaporean) selalu memiliki bau yang khas, yang bisa membikin saya mual-mual kadang sampai pening. Dulu difikirnya sih cuma aku sendirian yang merasakan ini, tapi ternyata tidak, banyak sekali teman-teman di sini yang merasa weird dan nggak suka dengan bau ini. Tidak hanya dari Indonesia, yang Singaporean pun merasa begitu. Baru setelah membaca tulisan mas Fatih di sini, dan kemudian aku bertanya tentang keadaan orang India ini, baru nyadar penyebab kenapa mereka memiliki fragrant yang spesial.

Ternyata pokok permasalahannya adalah bawang. Yap, mereka sangat suka sekali makan bawang mentah, dan dijadikan salad, alias dijadikan makanan mereka sehari-hari. No wonder, ada something special yang keluar dan mengalir ke udara di sekitar mereka. Bawang ternyata menjadi penyebab utama munculnya aroma khas yang membuatku pusing dan mual.

Itulah mengapa dalam Islam, bawang mendapat perlakuan tersendiri. Kalau kita lihat hadits dari Rasulullah SAW,

bawang 
Barangsiapa yang makan bawang merah, bawang putih atau bawang bakung (jengkol, dan sebagainya), maka sungguh janganlah dia mendekat masjid kami, karena malaikat terganggu dengan apa manusia terganggu dengannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Apakah dengan demikian tidak boleh makan bawang? Tentu saja masih boleh. Bawang ketika sudah dimasak dan kemudian kita makan membawa efek yang berbeda dengan bawang mentah yang kita makan. Lain dengan bawang mentah yang dipakai sebagai salad, yang memang akan mengeluarkan aroma yang kurang sedap dihirup oleh tetangga sekitar kita. Apakah kemudian juga dilarang makan bawang mentah (biasanya sih saya makan bawang abis makan sate) ? Ya tentu masih boleh, tapi kata orang Jawa, eMpan Papan. Jangan lah makan bawang sesaat sebelum waktu sholat gitu.

Karena itu Rasulullah melarang orang yang barusan makan bawang untuk dekat-dekat (mendatangi) masjid sebelum mereka membersihkan bau mulut (dan boleh jadi bau badan sebagaimana orang India tadi) mereka, agar tidak mengganggu manusia di sekitarnya. Dan pada intinya, kita diminta membersihkan badan kita, dan sedapat mungkin mengurangi bau badan (BB) kita, agar tidak menganggu sekitar. Allah cinta kebersihan, dan kebersihan adalah sebagian dari iman kan ?

________________:::_______________________:::______________::::
1): Tidak ada maksud sama sekali untuk menulis hal yang bersifat Rasis, hanya sebagai contoh sahaja
2):
Dalam bahasa Inggris, fragrant umumnya dipergunakan untuk menyebut bau harum dan wangi, bukan bau yang tidak sedap

Ceramah/Kultum in English? Sapa takut … Friday, Sep 7 2007 

Well, kalau urusan ngisi kultum, pengajian kecil-kecilan, atau pun ketika disambi ngobrol disambi minum kopi hangat, pisang goreng plus kacang rebus di buk (jembatan kecil, di atas gorong-gorong) atau pun warung angkring, mungkin Alhamdulillah bagi saya bukanlah suatu perkara yang susah. First of all, karena saya memang lebih sering menyampaikannya dengan bahasa nasional yakni bahasa Indonesia dan bahasa ibu saya, yakni bahasa Jawa. Kemudian, saya lebih mudah mengungkapkan segala padanan istilah kata yang mungkin.

Tapi, ketika harus menyampaikan dalam bahasa Inggris (yang tentu saja harus fluent), ternyata memang menjadi sebuah tantangan tersendiri. Kalau masalah berbicara harian dalam bahasa Inggris, memang tidak terlalu bermasalah, apalagi saya seorang engineer, yang kadang di antara kita tidak terlalu meributkan masalah pilihan kata dan segala macam tetek bengek lainnya, apalagi dalam kitab engineering, boleh dibilang bahasanya memang secara umum universal. Tapi yang dihadapi kemarin sore adalah audience komunitas muslim Internasional, yang otomatis, apa yang harus disampaikan pun dalam bahasa Inggris.

Beberapa kali saya bertanya kepada audience, apa padanan kata yang tepat dalam bahasa Inggris, yang alhamdulillah ketika disampaikan dalam bahasa Arab, mereka semua tahu. Sebagai contoh, ghibah, yang bahkan dalam bahasa Indonesianya pun tidak ada padanan kata yang tepat, kecuali gabungan beberapa kata, kalau dalam bahasa Jawa mudah, yakni ngrasani, coba ada yang tahu bahasa Indonesianya? Gosip? kurang tepat, (nge)Rumpi? itu setahu saya bukan bahasa Indonesia yang baku, nah apalagi ketika saya harus menyampaikannya in English. Wew…

Selain itu, saya biasa ketika bicara di depan publik, kadang diselingi dengan joke-joke, yang tentu saja tidak setiap joke dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan bebas ke bahasa Inggris. Apa mungkin kita menerjemahkan kalimat Ada Udang di Balik Bakwan …. ? 😀 Ini juga menjadi tantangan tersendiri.

Alhamdulillah, secara umum kemarin bisa (paling tidak menurut penilaian saya sendiri 🙂 ), kultum yang saya sampaikan bisa diterima dan difahami oleh rekan-rekan muslim Internasional di NTU. Paling tidak ukurannya orang yang native-nya Inggris (muslim dari Kanada), bisa memahami. Karena umumnya ketika kita berbicara dengan native, mereka lebih mudah untuk tidak faham apa yang kita omongkan, ketimbang berbicara dengan orang yang native-nya bukan Inggris (mungkin karena sama-sama memahami bahasa Inggrisnya jelek, jadinya malah jadi bisa faham apa yang diomongkan).

PINDOL? Apa lagi tuh … Thursday, Sep 6 2007 

Salut deh sama anak-anak undergraduate NTU yang memang pada berbakat. Di tengah tekanan dan pressure kuliah di Singapura sini, mereka masih bisa mengapresiasi hal-hal yang luar biasa. Btw, videonya keren juga 🙂 Yang dari KUNTUM mau provide nasyid gak? 😛

Next Page »