Idul Adha Sebentar lagi Monday, Dec 10 2007 

Hari Raya Haji dikenalnya di Singapura, atau Idul Adha atau Idul Qurban yang lebih sering di sebut di Indonesia, insya Allah akan datang sebentar lagi. Mari belajar sejenak masalah qurban ini, ya biar isi blog ini seimbang, tentang masalah sosial, masalah IT, tapi juga tidak lupa masalah belajar agama.

Yang pertama, ibadah yang satu ini adalah ibadah spesial bagi kaum muslim, karena mereka akan … makan-makan …he…he (ibadah kok makan-makan 😉 ). Tapi memang betul, karena hasil sembelihan harus dibagikan ke seluruh kampung, dan orang yang berhak lainnya untuk menerima daging qurban ini, dan untuk apa lagi daging qurban dibagi-bagi kalau bukan untuk dimakan. Tentu makan-makan bukan tujuannya, dia hanya merupakan efek samping dari ibadah yang dilakukan.

Ibadah qurban sendiri, kalau menurut Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazaairi dalam bukunya yang berjudul Minhajul Muslim, dicantumkan hukumnya adalah Sunnah Wajibah. Loh, piye to? Sunnah kok Wajib. Kamsudnya ya hukumnya adalah sunnah tapi ya dekat-dekat ke wajib gitu. Bagi siapa? Bagi yang mampu tentu saja. Satu hal yang pasti, ibadah ini tidak bersifat sekali saja seumur hidup, akan tetapi CUKUP SEKALI SETIAP TAHUNNYA !!!  halah, namanya Idul Adha ya setahun sekali … Jadi, jika anda adalah orang yang mampu beli kambing atau minimal 1/7 dari harga sapi (misal harga kambing 720ribu, tiap bulan anda bisa nabung 60ribu) maka hukumnya menjadi sunnah yang lebih dekat ke wajib (bahasa matematikanya Limit Wajib → 1). Kalau nggak nglakuin bagaimana? Dosa kah? … ehm kalau itu kurang tahu sih, tapi Nabi Muhammad berkata dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah,

“Barangsiapa yang memiliki kemampuan dan tidak menyembelih maka jangan dekati tampat shalat kami”

Jadi sebaiknya kalau sudah mampu, ayo-ayo, pada Ibadah Qurban !

Yang kedua, masalah hewan qurban-nya, apa saja? Ada Aa’, teteh, eh…bukan ding 🙂, ya tentu saja binatang sembelihan seperti sapi, gibas, unta, kambing, tapi jangan diganti ayam loh ya, meski jumlah ayamnya yang dipotong sampai 24 ekor ayam, ya gak bisa disamakan dengan motong 1 ekor kambing, mentang-mentang profesinya juragan ayam.

Nah, kemudian ternyata ada “Qurban Idol” juga loh, ada binatang paporit buat disembelih. Kaya’ gimana sih? Kata ‘Aisyah R.A, Qurban Idol itu adalah Kambing Gibas, yang warnanya putih, terus pake kacamata item, sama kaos kaki item …. he…he.. Serius nih? Iyah, super serius. Besok pas jelang hari raya, coba cari aja, pasti ada tuh, kambing yang pake kacamata item sama kaos kaki item … gak percaya? Kalau anda sering beli hewan qurban pasti tahu, kambing yang model ginian. Masalahnya di Indonesia perasaan jarang ada kambing gibas? Adanya paling kambing congek jawa, sama kambing gimbal. Tapi setidaknya, besok kalau cari kambing, yang pake kacamata item, sama kaos kaki item, kan keren tuh !

Yang ketiga, qurban itu cukup satu, untuk satu keluarga. Jangan mentang-mentang bisa beli sapi sendirian, trus biar kagak dimongin … “wuih….kaya nih !!!“, trus pas diajuin ke panitianya, “Eh keluarga saya mau kurban sapi nih, atas nama Saya, Istri, si Sulung A, si nomer dua B, … dst sama si Bungsu E !“. Tapi apa nggak boleh satu keluarga kasih qurban lebih dari satu? Ya boleh saja, tapi satu binatang qurban sudah bisa mewakili satu keluarga (keluarga inti yang terdiri ayah ibu dan anak yang belum menikah, kalau keluarga simbah, pakdhe, bulik, dst ya tentu beda).

Yang keempat, kalau qurban, jangan minta jatah banyak-banyak. Maksimal sepertiga saja. Ntar perutnya jadi gembul trus jantungnya mbledhos karena hipertensi, dan tidak baik untuk kesehatan mata… ya jelas dong, masak daging dikasihkan ke mata, daging ya buat dimakan duong !! 😀 Kasih sepertiga yang lain untuk tetangga dan sepertiga lain untuk kalangan fakir miskin ya.

Segitu dulu, kapan-kapan kalau sempat disambung lagi.

Sedikitnya rasa malu Monday, Oct 29 2007 

Sejatinya Allah SWT telah memberikan salah satu fasilitas yang bisa dinikmati manusia dalam rangkan menjaga kehormatan manusia itu sendiri. Yakni yang disebut sebagai rasa malu.

Bahkan jika kita berbicara tentang apa yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW, rasa malu ini menjadi perhatian tersendiri dalam fase awal dakwah beliau. Dimana beliau bersabda:

idza-malu
Jika kamu tidak lagi memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendakmu

Hal ini yang sayang mungkin tidak lagi dimiliki oleh kebanyakan dari kita. Rasa malu tidak lagi dimiliki oleh kita, ketika kita melakukan kemaksiatan dan hal buruk lainnya, sejatinya Allah SWT telah menutupinya, tapi alih-alih kita merasa “beruntung” bahwa Allah SWT telah menutupinya, justru malah kita sendiri yang mengumbarnya.

Disampaikan lah ke publik tentang kebejatan yang baru saja dilakukan oleh dia, merasa bangga ketika dapat mengumumkan kebejatan dia di depan khalayak ramai, dan akan semakin merasa gembira ketika ternyata kebejatan yang dia lakukan ditanggapi “positif” oleh khalayak ramai tadi.

Ketika rasa malu sudah tidak lagi dimiliki, maka apa pun bisa dikerjakan, termasuk pada akhirnya menghalalkan segala macam cara dalam mencapai tujuannya. Tidak ada lagi rasa rikuh, “ewuh pakewuh”, langsung dihantam saja, tanpa peduli benar dan tidaknya. Pun begitu jua, tiada rasa malu kepada orang lain (apalagi kepada Yang Maha Melihat) justru malah “mendakwahkan” kemaksiatan yang dilakukan kemana-mana untuk mencari pendukung dan bala bantuan.

Ke mana rasa malu yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada manusia? Entahlah ….

Online Alquran Reciter Monday, Oct 8 2007 

Bagi rekan sekalian yang sedang dalam “proyek” menghafalkan Alquran, entah karena keinginan sendiri, disuruh sama guru ngaji, atau dalam rangka “cari muka” dihadapan calon mertua, ada website yang cukup bagus untuk dilayari.

Namanya On Line Quran Reciter, dengan tampilan yang sangat menarik (disesuaikan dengan tampilan Mushaf Usmani) seperti Alquran yang sering kita baca, ditambah dengan fasilitas yang memudahkan bagi calon penghafal Alquran, website ini dapat menjadi pilihan yang cukup bagus. Kita dapat menentukan surat apa, ayat berapa sampai berapa, mau diulang berapa kali, dst.

reciter

Website ini dibangun oleh Islamic Assembly of North America (IANA), dan disajikan kepada kita secara gratis. Akses ke websitenya pun relatif cepat. Ada beberapa pilihan bacaan yang bisa kita kehendaki, di antaranya:

  • Abdulbaset
  • Ali Alhodaifi
  • Mahmood Alhosari
  • Abdullah Basfar
  • Ibrahim Alakhdar
  • Mohammed Ayoub

Ada juga terjemahan bahasa Indonesia, jadi memudahkan bagi kita juga untuk memahami dari ayat Alquran yang kita baca dan kita hafal.

Are you ready with ramadhan? Thursday, Sep 6 2007 

This slides is going to be published in NTU this evening on event held by NTU Muslim Society.

Any comments are appreciated. Thank you.

Menjelang ramadhan, udah persiapan belum? Thursday, Aug 23 2007 

Tulisan ini juga dikirimkan untuk diterbitkan di buletinnya KUNTUM INDONESIA.

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Khottob radiallahuanhuma dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Tirmizi dan Muslim)

Tak terasa, kurang dari satu bulan lagi, kita akan kembali berjumpa dengan bulan Ramadhan yang mulia. Sudahkah saudaraku mempersiapkan segala sesuatunya? Ada sebuah penggalan nasyid yang cukup menggelitik …

Menjelang berbuka, duduk di depan meja, menatap makanan yang tersedia
Kolang-kaling, kolak pisang, es buah, begitu banyak lauk lainnya
Pintu diketuk disangka bunyi beduk, makanan langsung aja diseruduk
Perut pun kembung, pikiran melembung, waktu sholat roka’at lupa hitung

Alih-alih mendapatkan manfaat Ramadhan yang salah satunya untuk menyehatkan fisik kita, justru Ramadhan malah semakin meningkatkan kadar lemak di tubuh kita. Untuk itu, agar ibadah di bulan Ramadhan kita bermanfaat, paling tidak ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan.

Yang pertama adalah persiapan Iman. Bulan Ramadhan sudah semestinya bulan untuk beramal, dan Iman adalah ibarat energi yang menggerakkan ibadah kita di bulan Ramadhan. Seperti halnya olimpiade, semestinya para atlet latihan olah raganya jauh-jauh hari sebelum Olimpiade berlangsung, begitu pula dengan ibadah Ramadhan. Jangan ”latihan bertempurnya” justru saat bulan Ramadhan. Sudah pasti kita akan kalah kan?

Yang kedua adalah persiapan fisik. Sebelum ”puasa beneran”, kita latihan puasa dahulu. Rasulullah SAW membiasakan diri beliau unuk banyak berpuasa sebelum bulan Ramadhan. Sehingga ketika memasuki Ramadhan, puasanya menjadi puasa yang terbaik. Kalau kita baru latihan ”puasa beneran” saat awal Ramadhan, bisa-bisa Ramadhan berakhir dengan ”puasa beneran” yang baru akan didapat. Rugi satu bulan kan ? 😦

Yang ketiga adalah persiapan ilmu. Mau bermain sepak bola, tapi nggak tahu peraturannya? Bukan kiper tapi kerjaannya menangkap bola dengan tangan. Sudah pasti wasit akan menyempritnya kan? Pun, puasa demikianlah halnya. Jangan-jangan kita puasanya nggak benar. Hadirilah kajian/pengajian yang membahas tentang fiqh puasa, amalan-amalan di bulan Ramadhan dan lain sebagainya. Sehingga puasa dan amal kita menjadi amalan yang baik dan benar.

Yang terakhir adalah persiapan biaya. Kenapa dengan biaya? Apakah kita akan banyak mempersiapkannya untuk membeli buka puasa? Tentu tidak, Ramadhan adalah saat yang tepat untuk berbagi. Allah SWT telah berjanji untuk melipatgandakan seluruh Infaq dan shadaqah kita di bulan Ramadhan ini. Dan jangan lupa untuk membayar zakat fitrah kita nanti. Agar puasa kita tidak ”digantung” 🙂

Mumpung belum terlambat, mari kita persiapkan kembali bekal kita untuk Ramadhan kita kali ini. Siapa tahu ini akan menjadi Ramadhan terakhir kita.

Tentang “Juma’tan” di Singapura Friday, Aug 17 2007 

Tulisan ini merupakan tulisan lama sekali yang tertunda, baru sempat ketulis sekarang.

Sebenarnya tidak ada perbedaan yang banyak antara sholat Jum’at di Singapura dengan sholat Jum’at di Indonesia. Mungkin yang paling kentara di sini, sebagian besar masjid adzan dua kali, tidak seperti di Indonesia yang campuran, dimana sebagian adzan hanya sekali, sementara yang ada juga yang adzan dua kali.

Untuk melaksanakan sholat Jum’at di Singapura bukanlah perakara yang sulit, kecuali bagi mereka yang tinggal di daerah West (seperti saya), banyak Masjid yang bertebaran di seantero Singapura. Kemanapun kita pergi (terutama di daerah city), insya Alloh Masjid bukan kendala berarti. Walaupun tentu saja tidak seperti di Indonesia yang bisa ditemukan dengan mudah setiap sekian ratus meter sekali.

Masjid-masjid di Singapura banyak yang menawarkan makan siang bagi para Jama’ahnya, hal ini bisa dimaklumi karena istirahat siang yang mulai jam 1 sampai dengan jam 2 tidaklah ditambah karena hari Jum’at. Sehingga banyak pegawai kantoran yang kemudian makan siang di Masjid. Karena mereka tentu saja tidak sempat lagi untuk mencari makan siang di luar.

Satu hal yang paling kusukai dari masjid-masjid di Singapura adalah, baik pentadbir masjid (takmirnya) maupun para jama’ah di sini, sudah membiasakan diri dengan shaf yang lurus dan rapat. Tidak seperti di Indonesia, yang banyak sekali jama’ah kadang membawa sajadah besar, yang sering mengakibatkan shafnya tidak bisa rapat, perkara merapatkan shaf adalah merupakan hal yang jamak dan lumrah di sini. Hampir sebagian besar sholat jama’ah (terutama Jum’at yang kulihat di sini), para jama’ahnya langsung merapatkan shafnya.

Mengingat salah satu kesempurnaan sholat berjama’ah adalah lurus dan rapat, maka di awal sholat tidak henti-hentinya imam mengingatkan jama’ah untuk merapatkan shaf makmumnya. Di Indonesia sebenarnya juga sudah dilakukan, akan tetapi biasanya (at least sampai saya meninggalkan Indonesia) jama’ahnya pada suka ngeyel, disuruh merapatkan tetap saja tidak mau rapat. Hal yang lazim ditemui, ada sholat berjama’ah shafnya tidak bisa rapat. Pasti ada saja yang bolong-bolong. Hanya di beberapa masjid saja, seperti masjid-masjid di sekitar kampus yang bisa merapatkan shaf dengan baik. Lain itu biasanya tidak.

Semestinya kaum muslim di Indonesia memperhatikan hal yang kelihatannya kecil ini. Karena sholat berjama’ah yang dilakukan tidak akan sempurna kecuali dengan lurus dan rapatnya shaf ini.

Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berjuang di jalanNya dengan bershaf-shaf laksana bangunan yang kokoh.

Well, kokohnya bangunan Islam ini setidaknya bisa kita lihat dari “kokohnya” sholatnya. Jika bolong-bolong, tidak rapat, tentu bangunan itu akan mudah lapuk dan roboh.

Menyampaikan dengan cara yang indah …. Wednesday, Aug 15 2007 

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya

Terus terang, walaupun sering ngeblog, tapi aku bukanlah blogger yang rajin berkunjung, alis blog walking. Hanya beberapa blog saja yang aku kunjungi, tapi kemarin aku benar-benar “ketanggor” sama blognya mbah Dipo. Biasanya kalau membaca blog sambil lalu saja, tidak kemudian diresapi dengan mendalam. Intinya just for fun lah.

Tapi, membaca blognya mbah Dipo, benar-benar membuatku terkagum. Sebagai orang Jawa, yang juga tidak lepas dari filosofi Jawa, blog mbah Dipo benar-benar mampu memberikan nasihat tanpa menggurui dan membego-begokan orang lain apalagi sampai menganjing-anjingkan.

Pitutur sebagaimana alamat webnya, benar-benar memberikan pitutur (nasehat/ungkapan) yang benar-benar sejuk dalam bahasa yang sederhana, namun memberikan kedalaman makna. Jika menarik kembali ke belakang ketika Nabi menyampaikan dakwahnya, tidak ada kata-kata kasar dan keras yang muncul dari beliau, yang ada adalah kelembutan dan kesabaran. Bahkan hal ini pun telah diungkapkan dengan jelas dalam Alquran di surat Ali Imran 159 seperti yang kutulis di preambule tulisan ini.

Layaknya seorang simbah dengan asam-garam perjuangan, mbah Dipo merangkai kata demi kata yang menyederhanakan permasalahan yang boleh jadi rumit dan kompleks. Sehingga kata-kata itu menjadi mudah difahami oleh “anak-cucunya”, meski demikian beratnya isi dari kata-kata itu tetaplah muncul. Ibarat kalau dalam Alquran, disebut sebagai Qoulan Tsaqiila yakni perkataan (yang sederhana tapi) berat.

Terkadang cara penyampaian yang kaku, tidak fleksibel, cenderung berkutat pada sanad dan matan (penting, tapi nggak cocok buat dikasih ke orang-orang dengan cara berfikir yang simple seperti saya ini … 😀 ), menjadikan orang malah kemudian lari. Sebagai contoh, esensi dari Tauhid adalah mengesakan Alloh SWT, meniadakan sekutu. Ini yang pokok, bagi orang Islam, asal sudah bener-bener mentauhidkan Alloh SWT selesai, titik.

Tapi kemudian ada sebagian orang (misalnya: SAYA 😛 ), kadang memaksakan bahwa setiap orang harus tahu apa itu Tauhid Uluhiyyah, apa itu Tauhid Rubbubiyah, apa itu Asma’ wa Shifat, lha kalau orang nggak suka nggak nyampe pikirannya dengan segala macam tetek bengek “ilmiah-ilmiah” itu, ya malah pergi. Persis dengan kita belajar tajwid, yang penting bisa mbaca Alquran dengan benar, kalau mad ya dibaca panjang, kalau idhar dibaca jelas, asal mbacanya bener sudah selamet. Tanpa harus memahami dan menghafalkan definisi apa itu idgham, apa itu iqlab, apa itu ikhfa’.

Lha jaman nabi dulu, para Sahabat (CMIIW, sampai saat ini saya belum pernah nemu hadits yang isinya Nabi berkata bahwa Tauhid itu dibagi jadi Uluhiyyah, Rubbubiyah, dan Asma’ wa Shifat dst…) juga nggak diajari definisi apa itu Uluhiyyah, apa itu Rubbubiyah, apa itu Asma’ wa Shifat, tapi mereka Tauhidnya paling beres di antara generasi lain. Karena mereka menjalankan Tauhid itu dengan benar yang sudah mencakup ketiga-tiganya. Titik.

Sekali lagi, saya perlu belajar lebih banyak dari mbah Dipo, untuk menuturkan Islam ini ke tengah masyarakat saya dengan cara sebaik-baiknya.

Makna sebuah peringatan … Monday, Jul 9 2007 

Jika anda menyempatkan diri berkunjung ke Singapura, kemudian anda naik MRT, akan banyak sekali pengulangan peringatan yang diberikan baik di dalam kereta maupun ketika di stasiun, contohnya:

“Sila ambil perhatian, jangan tinggalkan barang anda dalam keadaan tidak terawasi, jika anda ternampak barang yang meragukan, sila hubungi pegawai kami, atau talipun 999”

“Sila ambil perhatian, demi keselamatan anda, harap berdiri di belakang garisan kuning”

dst…

Peringatan ini senantiasa diulang terus menerus, bahkan mungkin sampai yang mendengar akan “merasa” bosan karena diberikan peringatan yang sama setiap hari. So, seberapa pentingkah peringatan ini terus menerus diulang-ulang?

Dalam sebuah kajian, ternyata didapatkan bahwa pengulangan adalah hal yang sangat penting dalam “menghubungkan” otak seseorang, dalam hal ini adalah membentuk koneksi atau sinapsis antar sel dalam otak. Tanpa koneksi ini, sel-sel di otak kita menjadi tidak berguna, karena ibaratnya ada baterai dan lampu, tapi tidak ada yang menghubungkan keduanya, so, lampu ini nggak bisa menyala. Hanya ketika ada koneksilah yang menjadikan lampu ini menyala.

Mungkin kita sudah tahu, sudah ngerti, dan segala macam lainnya tentang hal yang diulang, tapi bukan berarti kita tidak butuh perulangan. Semakin sering diulang, semakin mendalamlah pemahaman kita, dan semakin jelaslah apa yang harus kita lakukan.

Karena itulah, dalam Islam kita juga mengenal

Fadzakkir, fainna dzikra tanfaul mu’miniin

Maka berilah peringatan sesungguhNya peringatan itu sangat berguna untuk orang-orang yang beriman

Karena itu jangan lah menyepelekan orang yang misal mengulang kembali kepada kita pelajaran misal: wudhu, dengan mengatakan … Ah gitu aja kok diajarin, aku kan sudah tahu. Atau misal pelajaran lain yang sepele misal tentang arti tauhid yang berarti mengesakan Alloh, kemudian kita komentar kepada yang memberitahukan kepada kita …. wah ngeteeeesss nih

Sering-seringlah kasih peringatan kepada diri kita, saudara kita, kawan kita, sesedikit apapun peringatan itu, walaupun mungkin yang kita beritahu sudah tahu akan hal itu, karena sesungguhnya kita sedang merangkaikan kabel, baterai, dan lampu agar bisa memberikan sinar bagi sekitarnya.

Syukurku Wednesday, Jun 27 2007 

Ya Allah kupanjatkan
Syukurku kepadaMu
Betapa banyak nikmat
Yang telah Kau berikan

Nikmat Iman, Nikmat Islam
Nikmat sehat kurasakan
Ilmu, waktu luang
Dan rizqi Kau curahkan

Menyambung silaturrahim di negri sebrang Sunday, May 20 2007 

Kerinduan suara adzan, indahnya ukhuwwah, terhubungnya persaudaraan dengan silaturrahim, adalah hal yang “mudah” didapatkan ketika kita tinggal di Indonesia. Tinggal di negri sebrang tentu akan memiliki atmosfer yang berbeda. Ada banyak hal yang boleh jadi hilang, akan tetapi tidak sedikit pula hal-hal yang baru ditemukan di sini.

Sesungguhnya setiap mu’min itu bersaudara. Persaudaraan atas dasar ikatan Islam inilah yang sesungguhnya akan mengikat setiap muslim, tidak peduli di mana dia tinggal, dengan suku apa dia berkawan, dengan bahasa apa dia berbincang.

Pun, begitu pula hidup di negri Singapura. Walaupun Indonesia memang dekat, akan tetapi tetap saja kehidupannya tidak lah sama dengan di Indonesia. Sebagai agama yang minoritas, pemerintah Singapura cukup mengakomodir dengan baik kehidupan kaum muslim di sini. Jujur saja, ketika makan makanan di sini, jaminan kehalalan lebih terjamin daripada di Indonesia sendiri. Ketika di Indonesia setiap orang boleh-boleh saja mengklaim produknya halal, tinggal kasih cap halal, maka jangan harap hal yang sama bisa dilakukan di sini. Denda cukup besar siap menanti bagi pelakunya.

Kehidupan di kampus NTU pun tentu memiliki atmosfer berbeda dengan kehidupan kampus Indonesia. Dengan jumlah muslim (dari Indonesia) yang kira-kira per tahun hanya 30an orang, tentu dibutuhkan suatu pengikat tersendiri yang akan menyambung persaudaraan di antara setiap muslim yang ada di sini.

Keluarga NTU Muslim Indonesia (KUNTUM Indonesia) sebagai suatu organisasi yang baru saja dibangun, cukup membawa angin segar dalam kehidupan muslim di NTU. Walaupun baru beberapa bulan terbentuk, akan tetapi semangat persaudaraan yang dibangun adalah luar biasa. Dengan semangat menjaga ukhuwwah Islamiyyah dan menjalin silaturahim antar sesama pelajar muslim Indonesia di NTU, KUNTUM juga berusaha membentuk pribadi muslim yang beiman dan berilmu dengan cara menyalurkan informasi serta mengadakan acara-acara keislaman kepada para anggotanya.

Insya Alloh, dengan jalinan ini, persaudaraan muslim tetap terjaga.

Berikut beberapa dokumen tentang muslim Indonesia yang ada di NTU.

Pra Deklarasi KUNTUM Indonesia


Outing Kuntum ke Changi Village


Video KUNTUM (courtesy http://www.kuntum-indonesia.org)

Outing KUNTUM di Changi Village (13 Mei 2007)

Kehidupan Muslimah NTU Singapura (bagi yang ingin mendapatkan gambaran kehidupan muslimah khususnya muslimah NTU di Singapura)

Technorati Tags: , , ,

Next Page »