Idul Adha Sebentar lagi Monday, Dec 10 2007 

Hari Raya Haji dikenalnya di Singapura, atau Idul Adha atau Idul Qurban yang lebih sering di sebut di Indonesia, insya Allah akan datang sebentar lagi. Mari belajar sejenak masalah qurban ini, ya biar isi blog ini seimbang, tentang masalah sosial, masalah IT, tapi juga tidak lupa masalah belajar agama.

Yang pertama, ibadah yang satu ini adalah ibadah spesial bagi kaum muslim, karena mereka akan … makan-makan …he…he (ibadah kok makan-makan ๐Ÿ˜‰ ). Tapi memang betul, karena hasil sembelihan harus dibagikan ke seluruh kampung, dan orang yang berhak lainnya untuk menerima daging qurban ini, dan untuk apa lagi daging qurban dibagi-bagi kalau bukan untuk dimakan. Tentu makan-makan bukan tujuannya, dia hanya merupakan efek samping dari ibadah yang dilakukan.

Ibadah qurban sendiri, kalau menurut Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazaairi dalam bukunya yang berjudul Minhajul Muslim, dicantumkan hukumnya adalah Sunnah Wajibah. Loh, piye to? Sunnah kok Wajib. Kamsudnya ya hukumnya adalah sunnah tapi ya dekat-dekat ke wajib gitu. Bagi siapa? Bagi yang mampu tentu saja. Satu hal yang pasti, ibadah ini tidak bersifat sekali saja seumur hidup, akan tetapi CUKUP SEKALI SETIAP TAHUNNYA !!!  halah, namanya Idul Adha ya setahun sekali … Jadi, jika anda adalah orang yang mampu beli kambing atau minimal 1/7 dari harga sapi (misal harga kambing 720ribu, tiap bulan anda bisa nabung 60ribu) maka hukumnya menjadi sunnah yang lebih dekat ke wajib (bahasa matematikanya Limit Wajib โ†’ 1). Kalau nggak nglakuin bagaimana? Dosa kah? … ehm kalau itu kurang tahu sih, tapi Nabi Muhammad berkata dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah,

“Barangsiapa yang memiliki kemampuan dan tidak menyembelih maka jangan dekati tampat shalat kami”

Jadi sebaiknya kalau sudah mampu, ayo-ayo, pada Ibadah Qurban !

Yang kedua, masalah hewan qurban-nya, apa saja? Ada Aa’, teteh, eh…bukan ding ๐Ÿ™‚, ya tentu saja binatang sembelihan seperti sapi, gibas, unta, kambing, tapi jangan diganti ayam loh ya, meski jumlah ayamnya yang dipotong sampai 24 ekor ayam, ya gak bisa disamakan dengan motong 1 ekor kambing, mentang-mentang profesinya juragan ayam.

Nah, kemudian ternyata ada “Qurban Idol” juga loh, ada binatang paporit buat disembelih. Kaya’ gimana sih? Kata ‘Aisyah R.A, Qurban Idol itu adalah Kambing Gibas, yang warnanya putih, terus pake kacamata item, sama kaos kaki item …. he…he.. Serius nih? Iyah, super serius. Besok pas jelang hari raya, coba cari aja, pasti ada tuh, kambing yang pake kacamata item sama kaos kaki item … gak percaya? Kalau anda sering beli hewan qurban pasti tahu, kambing yang model ginian. Masalahnya di Indonesia perasaan jarang ada kambing gibas? Adanya paling kambing congek jawa, sama kambing gimbal. Tapi setidaknya, besok kalau cari kambing, yang pake kacamata item, sama kaos kaki item, kan keren tuh !

Yang ketiga, qurban itu cukup satu, untuk satu keluarga. Jangan mentang-mentang bisa beli sapi sendirian, trus biar kagak dimongin … “wuih….kaya nih !!!“, trus pas diajuin ke panitianya, “Eh keluarga saya mau kurban sapi nih, atas nama Saya, Istri, si Sulung A, si nomer dua B, … dst sama si Bungsu E !“. Tapi apa nggak boleh satu keluarga kasih qurban lebih dari satu? Ya boleh saja, tapi satu binatang qurban sudah bisa mewakili satu keluarga (keluarga inti yang terdiri ayah ibu dan anak yang belum menikah, kalau keluarga simbah, pakdhe, bulik, dst ya tentu beda).

Yang keempat, kalau qurban, jangan minta jatah banyak-banyak. Maksimal sepertiga saja. Ntar perutnya jadi gembul trus jantungnya mbledhos karena hipertensi, dan tidak baik untuk kesehatan mata… ya jelas dong, masak daging dikasihkan ke mata, daging ya buat dimakan duong !! ๐Ÿ˜€ Kasih sepertiga yang lain untuk tetangga dan sepertiga lain untuk kalangan fakir miskin ya.

Segitu dulu, kapan-kapan kalau sempat disambung lagi.

Advertisements

Pokoknya halal deh Monday, Dec 3 2007 

Muis_Halal_logo

Satu hal yang menarik dari orang Melayu yang saya ketahui di Singapura adalah "ketaatan" mereka dalam masalah halal tidaknya suatu makanan.

Tidak seperti di Indonesia, yang walaupun sebagian besar adalah muslim, tapi kepedulian masalah halal-haramnya makanan masih relatif kurang.

Perusahaan mana saja, yang memproduksi makanan, dapat kapan saja mencantumkan logo halal, dan konsumen juga tidak terlalu perduli terhadap makanan tadi. Paling satu hal yang paling sensitif adalah Babi, lain itu, tentu saja tidak. Apakah prosesnya halal, cara mendapatkannya halal dan seterusnya.

Karena mayoritas muslim tadi lah, makanya sensitivitas muslim Indonesia mengenai kehalalan menjadi kurang. Kita terbiasa makan di mana saja, tanpa peduli apakah makanan yang tersaji halal atau tidak. Pokoknya asal "tancap saja", semua diasumsikan sebagai makanan Halal, bukan suatu perilaku yang baik tentu saja.

Berbeda dengan Singapura yang relatif cukup ketat menentukan Halal Haramnya suatu makanan, di mana di sini tidaklah gampang bagi suatu pelaku usaha menempelkan logo halal sebuah makanan. Bagi yang ketahuan asal tempel, dendanya cukup besar. Sehingga, pengusaha makanan pun akan diaudit secara berkala mengenai kehalalan makanan yang mereka sajikan, tentu jika mereka memasang logo halal.

Tapi ada anekdot yang cukup "menarik" tentang masalah ini, orang Melayu bisa saja mabuk, main perempuan, nggak sholat, dan seterusnya. Tapi masalah halal makanan tetap dijaga. Sehingga ketika ada seorang lelaki yang jalan sempoyongan karena habis mabuk dan main perempuan, ketika sampai di depan stall makanan, dia tidak lupa bertanya ke penjualnya ,"Hai, ini halal tak? …. "

He..he… ๐Ÿ˜€

Muslim (Indonesia) yang O’on Tuesday, Nov 27 2007 

Di salah satu milis yang saya ikuti, ada cerita (atau mungkin protes), kenapa orang barat yang sekuler, atau mungkin negri Singapura yang mayoritas non muslim, bisa lebih bersih, lebih tertib, lebih disiplin dan seterusnya,  ketimbang negara Indonesia (atau mungkin negri yang mayoritas muslim lainnya).

Satu hal yang pasti, tingkat pendidikan kita yang rendah, suka tidak suka, mau tidak mau juga menjadi salah satu faktor penting "kebobrokan" bangsa kita. Pemahaman agama Islam yang hanya difahami secara "fiqh" saja, dengan implementasi "nol" di lapangan. Padahal, Islam sendiri datang bukan hanya mengurusi masalah fiqh, hadats dan najis, halal dan haramnya sesuatu, tapi dia datang sebagai guidance bagi manusia, yang menjadi ideologi bukan sekedar Undang-undang dan peraturan semata.

Untuk itu, mari kita buat sebuah daftar "kesalahan" yang sering dilakukan oleh muslim, sehingga layak bagi mereka disebut O’on. Sebagai catatan, Muslim yang O’on tidaklah sama dengan Islam, tapi mereka memang O’on terhadap Islam itu sendiri.

1. Kebersihan

Rasulullah SAW bersabda, ุงู„ู†ุธูŠูุฉ ู…ู† ุงู„ุงูŠู…ุงู†

Bahwa kebersihan itu adalah sebahagian dari Iman

Pada kenyataannya, bangsa (muslim) Indonesia, tidaklah memiliki pola kehidupan yang bersih. Ngupil Buang sampah sembarangan dan tidak pada tempatnya, seperti di jalan, di sungai, dilempar dari jendela mobil. Sering bangsa (muslim) Indonesia memprotes pabrik yang membuang limbah secara sembarangan, padahal ternyata polusi yang ditimbulkan limbah rumah tangga juga tidak kalah membahayakan

2. Profesional dalam pekerjaan

Rasulullah SAW bersabda, ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ูŠุญุจ ุฅุฐุง ุนู…ู„ ุฃุญุฏูƒู… ุนู…ู„ุง ุฃู† ูŠุชู‚ู†ู‡

Bahwa Allah mencintai apabila sesorang beramal dengan amalan yang "perfect" (professional)

Harus disadari bahwa budaya menjalankan pekerjaan secara professional belum menjadi ruh bagi pekerja (muslim) Indonesia. Bagaiamana mereka datang jam 9 dari seharusnya jam 8 pagi, kemudian setelah itu sibuk bikin kopi, baca koran pagi, memberikan pelayanan jam 11 pagi, jam 14 loket sudah tutup dengan alasan pekerjaan menumpuk padahal jam tutup kantor jam 16 (pernahkah anda mengalami hal seperti ini? saya pernah !!! ). Bagaimana mungkin bisa maju, jika pekerjaan tidak lah dilakukan secara professional

3. Menghargai waktu

Dalam Islam kita mengenal, ุงู„ูˆู‚ุช ูƒุง ุงู„ุณูŠู

Bahwa waktu adalah sebagaimana pedang; jika dia tidak melukai musuhmu, maka dia akan melukaimu sendiri

Betapa banyak di antara kita yang menyia-nyiakan waktu kita, berlalu begitu saja, tidak pernah berusaha memberikan yang terbaik dengan waktu yang kita punya. Betapa sering (mungkin saya juga termasuk … hiks) kita tidak tepat waktu ketika berjanji, membiarkan orang lain menunggu sampe bulukan, padahal kita sendiri nggak pernah suka kalau nunggu orang lain. Betapa waktu tidak pernah kita sadari keberadaannya

4. Belajar (sepanjang hayat)

Rasulullah SAW bersabda, ุทู„ุจ ุงู„ุนู„ู… ูุฑุถุฉ ุนู„ู‰ ูƒู„ ู…ุณู„ู…

Menuntut ilmu (hukumnya) adalah  wajib bagi setiap muslim (dan muslimat)

Malangnya, minat baca bangsa kita termasuk rendah (walau Malaysia lebih rendah, kalau kata detik – sayang link URL gak ketemu – ), malas untuk belajar banyak hal, belajar untuk memperbaiki diri, memperbaiki lingkungan, merasa puas dengan yang ada, bahkan menganggap sudah cukup, dan menganggap sudah tahu banyak hal.

Hal yang sering menjangkiti para orang tua di Indonesia, yang menganggap lebih pintar dibanding kaum mudanya (makanya masih pada nyalon presiden, pada kagak nyadar tuh mereka he..he…), padahal sebenarnya mereka kalah pintar. Kenapa? Karena pada malas belajar. Makanya seperti iklan salah satu perusahaan rokok di Indonesia ,"Kalau belum tua, belum boleh bicara", padahal belum pasti yang lebih tua lebih pintar.


Kalau mau ditelusuri lebih banyak lagi, akan makin banyak ke-o’onan, bangsa (muslim) Indonesia, yang mereka sendiri tidak pernah faham dengan apa yang ada dalam Islam itu sendiri. Kalau kata Imam Al Ghazali, bak orang Gila, yang senantiasa melakukan pekerjaan (‘amal) tapi nggak tahu kenapa mereka melakukannya. Sholat, ya sholat, tapi mabuk ya tetap jalan. Zakat ya zakat, tapi korupsi ya tetap jalan. Terlalu banyak embel-embel kebodohan (dari Islam) yang bisa dilekatkan di "jidat" mereka.

Ah, seandainya saja, orang Islam memahami Islam secara benar, tentu mereka akan tahu, bahwa kebaikan, dan kemuliaan ISLAM itu benar-benar exist, nyata keberadaannya. Masalahnya adalah, masih banyak saudara kita yang sengaja menjerumuskan saudara-saudara muslimnya untuk ikut terjerumus ke dalam kebodohan (atas ISLAM) bersama dengan dia. Apalagi dengan melabeli orang yang belajar Islam dengan baik akan menjadi teroris, orang kaku, gak gaul, tidak bisa bermasyarakat, dan seterusnya, dan membuat orang semakin takut untuk belajar lebih giat tentang Islam ini.

Sungguh kasihan sekali umat muslim (Indonesia) …..

Dhisik … dhisikan … Friday, Nov 16 2007 

Mbah Dipo bercerita masalah antrian, betapa banyak orang yang pinginnya didahulukan, sehingga menjadikan mereka tidak mau antri, demi mendahulukan ke”AKU”an. Saling sikut, saling jegal, saling jotos, saling hantam, demi mendapatkan segala macam posisi dan sesuatu yang mereka inginkan.

Fenomena yang sangat mudah kita temukan dan kita lihat di sekitar kita. Orang ribut karena rebutan zakat fitrah yang dibagi pengusaha kaya, orang ribut karena pingin dapat “salam tempel” dari Gubernur yang baru terpilih, orang ribut gara-gara macet dan memilih menerobos jalur bus (bus way), terlalu banyak untuk diceritakan kembali.

Belum lama ini ada peristiawa di China, ada orang yang mati karena keinjek-injek dan sekian puluh lain terluka gara-gara ada diskon pembelian minyak goreng di Carrefour sana. Semua orang pingin menjadi nomor satu, tanpa tepo sliro, tenggang rasa, yang kalau orang lokal Singapura sini bilang Kiasu. Seperti film Titanic yang kebetulan diputar lagi di Channel 5 Singapura tadi malam, tokoh perempuan (si Rose) yang hampir diblubhug-blubug-kan (ditenggelamkan) oleh seorang lelaki yang pingin cari selamat dengan menjadikan kepalanya Rose sebagai tempat dia pegangan agar tidak tenggelam.

Dalam sejarah Islam, ada satu kekalahan besar yang ditimpakan oleh Allah SWT terhadap kaum muslim, yakni saat terjadinya perang Uhud. Saat itu, pasukan pemanah yang sudah diberikan tanggung jawab melindungi pasukan dari atas bukit, terpana melihat ghanimah atau rampasan perang yang ada di kaki bukit sana. Jumlah pasukan ini tidak lebih dari 10 persen keseluruhan pasukan muslim. Meski Abdullah bin Zubair r.a. sang pemimpin pasukan pemanah telah menghalang-halangi mereka untuk turun, tapi karena rasa ke”AKU”an yang muncul tadi, menjadikan mereka desersi dari tugas, demi rebutan harta rampasan perang. Padahal, in the end, tetap saja ghanimah itu akan dibagikan kepada mereka juga.

Kesempatan yang tidak disia-siakan Khalid bin Walid yang masih musyrik saat itu untuk menyerang balik kaum muslim dengan memutari bukit, dan menyerang dari atas. Dan seperti yang diceritakan, cerai berailah pasukan muslim, dan banyak yang gugur, meski pada akhirnya dalam perang ini dua pihak sama-sama mundur.

Manusia kadang terlalu khawatir bahwa mereka tidak akan mendapatkan jatah dalam kehidupan mereka. Menjemput jatah dengan cara yang beradab tentu akan berbeda dengan cara yang tidak beradab. Seorang pebisnis dapat untung 100 juta tentu akan merasa berbeda dengan seorang perampok yang menggasak 100 juta.

Jangan dhisik-dhisikan (mencoba paling duluan dengan segala cara), tapi jangan pula kรฉrรฉn-kรฉrรฉnan (menjadi paling terakhir karena malas), yang sedang-sedang saja, kalau pas jatahnya nomer satu ya dapet nomer satu, kalau kebetulan dapat jatah terakhir ya disyukuri, kalau gak dapat? Siapa tahu jatah kita ada di tempat lain. Kita jemput jatah kita dengan penuh adab, santun, dan ilmu. Binatang saja banyak yang selalu antri ketika ada jatah makanan. Kenapa manusia tidak bisa?

Gencet Menggencet Thursday, Nov 1 2007 

Orang yang biasa digencet,
dia pun akan ganti menggencet yang lebih rendah darinya,
sabagai manifestasi ketidakberdayaan dia,
demi mengukuhkan harga dirinya …..

Jangan membiasakan diri “menggencet” orang, karena boleh jadi kita akan menularkan virus “menggencet” tadi ke orang yang kita gencet untuk melakukan pembalasan “penggencetan” ke orang yang lebih inferior dari dia. Budaya yang tidak memunculkan win-win solution, tapi budaya yang mengukuhkan nuansa feodalisme “ndoro” dan “batur“.

Budaya yang tidak menjadikan manusia menjadi setara, seimbang, egaliter, sama di hadapan semua manusia yang lain. Karena kita adalah sama di hadapan Tuhan kita, kecuali yang membedakan adalah takwa yang kita miliki.

Ketika virus itu kita tularkan, setidaknya kita bakal menyumbang amalan dosa bagi diri kita, karena kita telah mengajarkan bagaimana caranya menggencet orang lain. Bak rantai domino yang akan menimbulkan efek kontinuitas perbudayaan penggencetan.

Budaya yang semua orang sebenarnya tidak suka, budaya yang menjadikan kita tidak bisa bekerja secara profesional karena lebih sering makan ati akibat digencet, budaya yang hanya memunculkan dendam semata. Semua orang membencinya, tapi sayangnya sebagian besar di antara kita justru pelakunya.

Adalah seorang pembantu bernama Anas bin Malik r.a yang bekerja untuk Rasulullah Muhammad SAW, dia berkata:

โ€Aku menjadi pelayan Rasulullah saw. selama sepuluh tahun. Belum pernah dia memukulku satu pukulan pun; tidak pernah membentakku atau bermuka masam kepadaku.”

Hilangkan budaya “PENGGENCETAN” !!!

Dukungan untuk kaum difabel (disabled) Tuesday, Oct 23 2007 

HPIM0548_en2

Kaum difabel (atau disabled di istilah Inggrisnya) memang mendapat perhatian tersendiri, setidaknya itulah yang saya dapatkan di negri Singapura ini. Meski jika diprosentase, barangkali jumlah mereka tidak terlalu banyak, tapi perhatian pemerintah lokal, yang kemudian kebijakan ini diendorse untuk dilaksanakan di setiap pengelola gedung dan akses publik lainnya, betul-betul memperhatikan kaum difabel ini.

Singapura memang bukan negara penganut demokrasi, tapi meskipun demikian, bukan berarti tidak ada perhatian terhadap rakyat. Hal yang mungkin sangat jauh berbeda dengan Indonesia yang penganut demokrasi, pmpakan tetapi karena demokrasi lah, keberadaan kaum ini menjadi terabaikan. Mengapa? karena demokrasi tadi, suara mereka yang sedikit tentu akan kalah denga suara para preman yang lain.

Kepentingan orang-orang ini menjadi terabaikan, bahkan segala sesuatunya hanya menjadi teori PMP (pendidikan moral pancasila) atau PPKN (pendidikan pancasila dan kewarganegaraan) yang saya masih ingat ketika ada kawan yang dapat nilai PPKN tinggi, maka lontaran "Munafik !" (tentu sambil bercanda) terlontar kepada dia. Jadi ingat, saya dulu pernah kena Her (mengulang ujian) PPKN saat kelas satu SMA. Teori yang mengatakan harus membantu orang yang butuh (misal: cacat, orang tua, ibu hamil, dll) ketika mereka membutuhkan bantuan seperti saat menyeberang jalan, duduk di transportasi umum, dll, yang pada kenyataannya tidak pernah kita laksanakan.

Sedikit berbagi, jika anda sempat berkunjung ke Singapura, niscaya akan anda dapati di wilayah publik seperti Stasiun MRT, gedung-gedung, toilet, dan lain sebagainya, akan selalu ada akses bagi kaum difabel ini. Dimulai dari jalan yang khusus disediakan untuk mereka, kemudian ubin yang berbeda dengan jalur umum untuk memudahkan orang yang buta agar juga bisa ikutan ke MRT, kemudian di bus-bus yang baru juga didesain untuk kenyamanan bagi pengguna kursi roda. Bahkan, di tempat ibadah seperti masjid pun (yang bisa anda lihat di gambar atas), juga disediakan tempat bagi para difabel.

Ketika kita kembali kepada ISLAM, kita pun juga diberikan pelajaran, betapa Rasulullah Muhammad SAW pun juga pernah diperingatkan oleh Allah SWT, ketika saat itu lebih memilih untuk berbincang ke petinggi Quraisy ketimbang berbicara dengan seorang buta yang bernama Abdullah Ibnu Ummi Maktum. Dari situ dapat kita lihat, penghargaan terhadap kaum difabel pun sangat diperhatikan oleh Allah SWT.

Kira-kira kapan penghargaan itu bisa diberikan oleh rakyat dan penguasa Indonesia?

Siapa yang sesungguhnya bertaqlid? Tuesday, Oct 16 2007 

Dulu sekali ketika saya masih ngaji awal-awal di salafi, saya masih ingat betul mengenai pentingnya seorang muslim untuk tidak bertaqlid. Dan hingga kini pun, alhamdulillah, saya masih ruju’ terhadap pendapat bahwa seorang muslim dilarang bertaqlid, karena jika dia bertaqlid tidak ubahnya seperti yang dikatakan dalam Alquran:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah. [Alquran Surah AtTaubah :31]

Ada juga perkataan dari Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala  yang juga saya pegang terhadap taqlid ini:

Barangsiapa yang ta’ ashub kepada seseorang, dia kedudukannya seperti orang-orang Rafidhah yang ta’ashub kepada salah seorang sahabat, dan seperti orang-orang Khawarij. ini adalah jalan ahli bid’ ah dan ahwa’ yang mereka keluar dan syari’at dengan kesepakatan umat dan menurut Kitab dan Sunnah, yang wajib kepada semua makhluk adalah ittiba’ kepada seorang yang ma’shum (yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam) yang tidak mengucap dan hawa nafsunya, yang dia ucapkan adalah wahyu yang diturunkan kepadanya”

Begitu juga dengan perkataan Imam Malik:

Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa benar dan keliru. Lihatlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesual dengan Kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah

Dalam rangka mengimplementasikan anti taqlid ini, maka saya banyak belajar dari banyak ustadz. Tidak mendikotomi antara ustadz yang satu dengan ustadz yang lain. Tidak pula mengharamkan suatu buku dari buku yang lain. Karena saya tidak ingin seperti katak dalam tempurung yang tidak banyak tahu apa-apa.

Untuk yang satu ini, dengan "sangat menyesal" saya dulu tidak ikut anjuran kakak-kakak senior saya ketika ngaji di salafi yang melarang saya untuk membaca bukunya Dr. Yusuf Qardlawi pun membaca pula bukunya Sa’id Hawwa, sebagaimana pula saya yang juga rajin membaca Kitab Tauhid dan juga Fathul Majid. Yang justru dengannya Alhamdulillah, pencerahan demi pencerahan bisa didapatkan.

Ketika pada akhirnya ada klaim dari Salafi yang mengatakan matahari mengelilingi bumi (silakan cari sendiri di Google ya, sengaja saya tidak pasang permalink agar tidak dianggap bikin kisruh lagi), dunia blogosphere pun ikut heboh. Setiap kali ada sanggahan terhadap teori aneh mereka, mereka selalu mengatakan kami berpegang kepada nash (Saya pun berpegang pada nash, hanya saja saya memahaminya berbeda. Ketika dikatakan matahari berjalan, saya pun juga mengatakan matahari berjalan/beredar), sementara hujjah lain senantiasa dikatakan menyalahi nash.

Hingga pada akhirnya ketika sedang blogwalking, saya terdampar di blog ikhwan salafy yang ada di sini. Saya cut salah satu disclaimer beliau pada penjelasan beliau yang mencabut tulisan yang ada sebelumnya tentang bukti-bukti "teori" heliosentris:

Tulisan yang membeberkan bukti ilmiah rotasi dan revolusi Bumi itu cukup kontroversial jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa saya sedang belajar untuk bermanhaj salaf. Salafiy saat ini banyak menjadi perhatian karena terbitnya buku tulisan Ustadz Ahmad Sabiq hafidhahullah (yang saya cintai karena Alloh) yang berjudul “Matahari Mengelilingi Bumi, Sebuah Kepastian… dst. Dan jauh sebelum buku beliau terbit, ulama kami yang terhormat Al ‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah (juga yang saya cintai karena Alloh) telah memberikan fatwa yang kesimpulannya menegaskan bahwa Matahari Mengelilingi Bumi.

Keberanian Ahmad Sabiq (dan para pendukungnya) yang mengatakan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi adalah KEPASTIAN DALAM ALQURAN, ternyata menggelisahkan kawan-kawan salafi yang lain yang masih bisa berfikir jernih bahwa "teori" heliosentris adalah sebuah kenyataan empiris. Saya kira Ahmad Sabiq pun hanya menelan mentah-mentah pendapat Syaikh Utsaimin Rahimahullahu ta’ala tanpa berusaha menelaah kajian ilmiah berdasar fakta yang ada.

Saya sebenarnya mendukung ikhwan salafi yang saya sebut di atas untuk tetap memuat tulisannya tentang teori heliosentris dalam blognya (dalam benak saya, IMHO, saya kira ikhwan salafi tersebut masih lebih berat terhadap fakta heliosentris ketimbang fatwa geosentris yang diyakini salafi). Justru dengan demikian, dia akan membuktikan bahwa dia pun tidak sekedar ima’ah (ikut-ikutan) bahkan mungkin taqlid dengan pendapat ustadznya. Justru kalau dia mencabut tulisan tadi, akan semakin membuktikan bahwa salafi sebenarnya tidak melakukan ittiba’ instead mereka justru malah melakukan taqlid terhadap pendapat ulama mereka (bak menjilat ludah sendiri).

Dan ternyata beliau memilih untuk mencabut tulisan tersebut dengan alasan sebuah kekhawatiran, kekhawatiran dia bahwa dia sedang belajar Salafi dan sementara di sisi lain menulis di blognya tentang fakta ilmiah heliosentris (yang dalam ini tentu berbeda dengan fatwa geosentris yang menjadi mainstream Salafi) akan menjatuhkan muru’ah (kehormatan) salafi, saya kira berlebihan. Dia khawatir salafi akan diserang, sebagaimana saya cut dari blognya:

Dan karena (saya rasa) cukup kontroversial itu, saya akhirnya memutuskan untuk menariknya. Keputusan itu saya lakukan dengan pertimbangan bahwa saya tidak ingin kelak ada pihak-pihak yang (mungkin) memanfaatkan tulisan saya untuk menghantam bahkan mencela teman-teman saya, saudara-saudara saya yang sama-sama sedang berusaha menjadi salafiy (yang saya cintai karena Alloh lebih dari kebanyakan orang di dunia ini).

Sebenarnya, jika beliau tidak mencabut tulisannya, beliau akan membuktikan bahwa Salafi pun bisa berbeda pendapat, mereka masih mengikuti Imam Malik yang malah memerintahkan pengikutnya untuk menyelesihi dia sekiranya pendapatnya salah sebagaimana yang sudah saya sebut di atas. Bahwa berbeda pendapat bukanlah suatu aib. Bahwa para sahabat pun berbeda pendapat dalam banyak urusan pun tidak bisa kita ingkari. Ya kan? Dan jika konsisten dengan kesalafiannya yang mana berada di atas jalan para sahabat (yang juga berbeda pendapat), seharusnya dia tidak perlu khawatir untuk menjadi salafi yang berbeda dengan ustadznya.

Akan tetapi beliau memilih untuk mencabut tulisannya sayang sekali. Kalau demikian caranya, pantas saja ketika orang mengatakan sebenarnya yang taqlid justru kawan-kawan di salafi, yang melarang pengikutnya untuk mendapatkan pengetahuan dan pemahaman lain selain dari ustadz-ustadznya sendiri maupun buku-bukunya sendiri, dengan senjata ampuh mereka, bahwa golongan lain adalah sesat dan menyesatkan.

Am I right? or Am I wrong??

NB: tulisan yang dicabut itu masih disimpan di Temboloknya google yang bisa diakses di sini.

Selamat Idul Fitri 1428H ! Ied Mubarak. Thursday, Oct 11 2007 

ied-mubarak

Saya selaku pengelola blog ini, mengucapkan Taqobalallahu Minna Wa Minkum. Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawwal 1428 H. Semoga keberkahan Ramadhan dapat kita pertahankan selepas Ramadhan tahun ini berakhir, dan menjadikan kita semakin bertaqwa.

Tiada kebahagiaan akan kembalinya kita ke dalam fitrah, yang hanif, yang jiwanya bersih dan lurus sebagaimana hanifnya seorang bayi yang terlahir dalam keadaan fitrahnya yang berjiwa lurus. Memaknai Idul Fitri secara lebih berarti, tidak sekedar berbagi hura-hura dan pesta pora. Memaknai Idul Fitri dalam arti yang sebenarnya, menjadikan dia sebagai gerbang kebaikan kita di hari berikutnya, gerbang menuju kesalehan pribadi dan kesalehan umat.

Sekali lagi, Selamat Idul Fitri 1 Syawwal 1428 H ! Semoga kita termasuk orang yang dijanjikan kemenangan olehNya.

Ied Mubarak !

Nasyid: What I’m Listening Now Tuesday, Oct 2 2007 

Semalam, pulang dari berbuka puasa di Masjid Sultan, di daerah Bugis, Singapura, ada kawan yang bercerita, ada grup nasyid dari Indonesia yang nasyidnya katanya diputar di TV-TV mesir.

Penasaran, coba cari di Internet, terus diputar, wah sejuk sekali. Suara mereka halus sekali, syahdu, penuh pendalaman akan syairnya, menyentuh sekali pilihan nada dan harmonisasinya.

Benar-benar cool ! Recommended to be listened lah !

Cemburu … Tuesday, Sep 25 2007 

Di dalam ruangan sebuah rumah sakit, terdapat dua orang pasien. Keduanya memiliki penyakit yang cukup serius. Setiap sore hari, dua pasien ini beristirahat sembari berbincang tentang pengalaman kehidupan masing-masing.

Setiap petang, salah seorang pasien yang kebetulan tempat tidurnya berada di dekat dengan Jendela, dia menjelaskan apa saja yang terjadi segala keindahan yang nampak di luar jendela sana.

“Jendela ini berhadapan dengan sebuah kolam yang indah, sekelilingnya ada pepohonan serta bunga yang berwarna-warni. Anak-anak kecil bermain dengan riang gembira. Burung-burung beterbangan, sungguh pemandangan yang indah dan permai,” dia berkata kepada pasien yang berada di sebelahnya.

Laki-laki tersebut menjelaskan dengan begitu menarik, sehingga pasien satunya dapat membayangkan suasana yang ada di luar jendela rumah sakit itu. Setiap kali dia menyampaikan suasana tadi, pasien yang satunya menjadi bersemangat dan menjadi ceria mendengar gambaran yang indah tadi.

Suatu sore, ketika keduanya sedang berbincang-bincang, tiba-tiba terlintas di benak lelaki yang tempat tidurnya jauh dari jendela. “Kenapa dia saja yang mendapat kesempatan untuk melihat pemandangan yang indah itu. Kenapa aku tidak?”. Dia pun mulai dirasuki perasaan cemburu. Dia berfikir seharusnya rumah sakit dapat berlaku adil, dengan menjadikan dia dan lelaki yang berada di dekat jendela bergiliran tempat, sehingga dia pun dapat merasakan kesenangan yang sama. Akhirnya, karena api cemburu menderanya, segala apa yang disampaikan kawannya menjadi hambar tak berasa, dan rasa cemburu mulai menutupi segala keindahan yang ada.

Selang beberapa hari kemudian, dia memperoleh kabar bahwa kawannya telah meninggal. Bukan bersedih, justru dia menjadi riang hati karena berarti ada kesempatan bagi dia untuk berpindah tempat. Dan dia berfikir dapat menikmati segala pemandangan yang selama ini hanya dia dengar saja. Beberapa waktu kemudian, dia pun meminta rumah sakit untuk memindahkan dia dari tempat tidurnya yang sekarang.

Sore itu, lelaki tadi menegakkan badannya yang lemah, hanya untuk melihat pemandangan di luar sana.

Di hadapannya hanyalah sebuah tembok kosong belaka.

______
disadur dari majalah Nadi, MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura), edisi July-September 2007.

Next Page »