AndriMukhammad Andri Setiawan, biasa dipanggil Andri, diprotes sama temen kuliah S2 dari Pakistan, suruh ngganti Mukhammad menjadi Muhammad (aku bilang, salahnya petugas kecamatan yang nulis ndak sesuai surat lahir, dan aku males ngurus ganti nama ke pemerintah, ribet). Sudah menikah, dengan 1 orang istri yang cantik, seorang Psikolog, Army Widyastuti namanya.

Tinggi badan 169cm, berat badan fluktuatif, tergantung mood dan keadaan…he..he..tapi biasanya berkisar 67-70 kg. Potongan rambut lurus, kadang bisa kriting, tapi sekarang lagi seneng sama potongan cepak malah kadang-kadang gundul, maklum lagi krisis…jadi biar hemat duit untuk beli shampo. Berkacamata sejak SMP, yang jelas karena keturunan, kedua, di depan TiVi / Komputer terlalu lama.

Sehari bisa sekian jam di depan komputer (yang terkoneksi sama Internet tentunya), maniak sama yang namanya Internet. Tapi itu semua bisa dikalahkan kalau dikasih buku yang menarik, walaupun tebal, biasanya kuusahakan sehari selesai, seperti buku Tarikh Khulafa’nya Imam As Suyuti, kemudian The Da Vinci Code – Angels and Demon – Digital Fortress nya Dan Brown, dijamin komputer bakalan ditinggal deh.

Dulu pernah bisa ngecrack program-program shareware untuk cari serial numbernya, dulu pernah bisa masuk ke sistem orang lain (tanpa izini tentunya, karena ngeHack gitu loh), dulu pernah menaruh file di web server orang lain (cuma file txt doang), tapi tidak pernah melakukan perusakan sistem, hanya iseng-iseng berkunjung saja.

Anak tertua dari tiga bersaudara, walaupun demikian, tidak jarang ketika bertemu denganku oas bareng-bareng sama adikku, pasti ditanyain, “Itu masmu ya???”, padahal dia adikku😀 mungkin karena aku dikarunia wajah baby face kali ya …hue..heu..

Aktif di dunia perPKSan, baik di Indonesia, maupun di Singapura (saat tulisan ini ditulis). Punya kartu anggota PKS juga🙂 Dulu banyak berkegiatan di mushola kampus, dan tentu saja mushola SMA 1 Yogyakarta, tempat yang sekian tahun kusinggahi untuk mengemban tugas dakwah, walaupun sudah lulus lebih dari 6 tahun lamanya. Sempat diminta jadi ketua Keluarga Muslim Teknik UGM, tapi kutolak, karena kesibukan yang “tiada taranya” (halah)

Kawan dekat saat SD namanya Dandun Wintolo (terakhir ketemu pas kuliah, di TP UGM, tinggal di Danurejan, Jogja), saat SMP sering bareng sama Chandra Purnomo (dia baru S2 di Australia, tinggal di Belakang Bonbin Gembiraloka), saat SMA sering dolan bareng Bangun Fitriadi (Mesin ITS, saiki neng ndi kowe le?, asli Wonogiri), pas Kuliah sering ejek-ejekan sama Imron Rosyadi (Iyom, S2 mu nasibe piye? wis tekan endi?).

Saat masih ABG, seperti remaja pada umumnya, tentu saja pernah (merasakan) jatuh cinta (wedew….bukan ding, aslinya naksir, mbuh ditanggapi opo ora), mulai mengerti tentang buruknya pacaran saat SMA, meski demikian, karena anak nakal, ya tetep aja seneng sama makhluk yang namanya perempuan, cuma karena sudah ngaji, seleranya bukan lagi cewek, tapi Akhwat (kqkqkq….), Alhamdulillah tetap berproses untuk berubah, dikenalkan dengan akhwat yg belum kukenal sama sekali oleh “bos” dan “bosnya” akhwat, dan jadilah kita menikah. Jadi ndak sempat ngrasain pacaran “terbuka” (maksudnya apa? :D)

Menggemari hampir semua jenis masakan, kecuali masakan Singapura – abis makanan sini cuma buat ngenyangin perut, tapi ndak bisa dinikmati rasanya. Kadang-kadang masak sendiri, sempat kehilangan kemampuan masak setelah menikah…hua..ha…tapi berhubung sekarang di Singapura jadi anak kos, ya mencoba menggali kembali kemampuan yang sudah terkubur. Paling seneng sama yang namanya Durian, tapi paling ndak seneng sama harganya. Paling tidak suka sama buah Pare (Paria), pahit rasanya, bisa bikin muntah-muntah.

Paling nggak ngeh sama yang namanya ngrapiin kamar, tapi sekali ngrapiin kamar, bisa berjam-jam nggak keluar-keluar (ya jelas lama ngrapiinnya, wong kamarnya aja jarang dirapiin). Paling seneng ngumpulin nota-nota pembelian, kertas-kertas catatan kecil, tapi masalahnya asal ngumpulin aja, tanpa diatur, akibatnya pas lagi butuh nota-nota itu jadi bingung, meski sebenarnya ada.

Menggemari Formula 1, dengan pembalap favorit Michael Schumacer. Sempat seneng sama basket, karena teman-teman satu les, sukanya maen basket, tapi akunya sendiri ndak pandai main basket. Kadang-kadang suka ikutan sepakbola, tapi bukan maniak sepak bola, hanya kalau pas bapak mertua nonton bola, ikut nemenin.

Kalau jalan, sama temen-temenku suka diteriakin, abisnya sering ninggal mereka, jalanku terlalu cepat bagi mereka. Tapi semenjak ketemu orang-orang Asing terutama orang Eropa, ternyata jalanku masih kalah cepet. Kalau jalan, ndak suka liat sana-sini, pokoknya asal jalan aja, sampe kadang-kadang nubruk, atau kesandung (duh sakitnya, jempol kaki nih yang paling sering jadi korban).

Sangat senang dengan sejarah, tapi paling tidak suka pelajaran Sejarah (dapet 7 terus sejak SD-SMA). Sampai SMA paling senang sama Matematika (Ebtanasku 9.9 je..), tapi entah sejak kuliah, kehilangan mood sama matematika, apalagi kalau sudah ketemu Cacing-cacing kuadrat (integral rangkap maksudnya), tetep gak mudeng sama yang namanya Transformasi (kecuali transformasi Laplace).

Easy going, suka senyum, tapi kalau marah, menakutkan (kata sebagian orang). So, you know me now, right ?🙂