Satu hal yang kurang begitu saya jumpai di Indonesia adalah penjagaan terhadap peninggalan sejarah. Sejatinya, memang suatu bangsa hendaknya menjaga cagar budaya, agar generasi kita mendatang dapat mengerti dan menghargai bangsa mereka.

Adanya cagar budaya yang menjadi jembatan bagi kita untuk memahami dan mengetahui “perjuangan” para pendahulu, dan mengambil pelajaran darinya demi kebaikan di masa mendatang.

sultan Singapura sadar akan hal ini, sehingga meski negri yang dibangun adalah dalam nuansa modernitas, tapi mereka tetap mempertahankan apa yang disebut sebagai cagar budaya (meski kadang saya rasakan, juga demi bisnis semata, adanya cagar budaya tentu akan semakin menambah jumlah wisatawan yang ada).

Seperti foto di samping, yakni Masjid Sultan yang merupakan salah satu cagar budaya Singapura. Masjid ini dijadikan sebagai cagar budaya karena didirikan pada abad 19 oleh kesultanan Johor. Meski menjadi cagar budaya bukan berarti semuanya serba kuno, justru fasilitas di sekitarnya sangat memudahkan sekali bagi pengunjung yang hendak sholat, ataupun turis-turis yang sekedar ingin berjalan-jalan di sekitarnya, dan berfoto-foto.

Bahkan seorang kawan bercerita, dia mengirimkan foto toilet dan tempat wudhu masjid ini untuk kemudian dikirimkan fotonya ke temannya yang tinggal di Indonesia, temannya yang di Indonesia bercerita, bahwa toilet dan tempat wudhu di masjid Sultan ini, sangat jauh lebih bersih ketimbang kantornya. Apalagi mengingat “stereotip” masjid di Indonesia yang “kadang” kumuh.

Banyak sekali kawasan cagar budaya di Singapura yang tidak sekedar dipertahankan, tapi dirawat sedemikian rupa, bahkan mampu memberikan penghasilan bagi negri ini. Indonesia pun sebenarnya tidak kalah, hanya saja kadang kurang ada i’tikad yang serius dari mereka yang bertanggung jawab untuk melakukan pengelolaan wisata ini, malah sibuk menghamburkan duit sebesar 17.5 Milyar untuk sebuah website pariwisata yang biasa saja. Padahal dengan dana sebesar itu tadi dapat mengkonservasi cagar budaya yang kita miliki lebih banyak lagi.

(Saya sendiri pun yang juga “bermain” di ranah webhosting pun bingung, duit segitu banyak kok bisa ya dihabiskan untuk webhosting, emang honor pembuat webnya berapa besar ya? 1 milyar sendiri kah? Kalau gitu saya juga mau …he…he.., lagipula, nuansa “ngapusi”nya kok kentara sekali, ngakunya servernya ada di empat benua, padahal dari catatan DNS server, cuma ditampung di satu negara, yakni Singapura)

Dari sejarah, kita akan belajar banyak hal. Manusia terus berkembang cara berfikirnya, kebudayaannya, dan lain sebagainya, semuanya tidak terlepas dari peran sejarah yang menaunginya. Alangkah indahnya, jika catatan ini tidak lenyap begitu saja, sehingga kelak generasi penerus kita hanya mampu menikmati sejarah ini dari multimedia saja. Mereka tidak mampu menjamah secara langsung dan merasakan warisan budaya bangsa mereka.