agnostic

Milis kampung-ugm baru rame tentang apa yang mereka sebut dengan roti spekuk yakni ketidakpastian akan sesuatu, dalam hal ini tentang apa yang disebut sebagai Tuhan, Surga, Neraka, yang semuanya tidak dapat dipastikan.

Mumet !, bahasa tingkat tinggi yang mereka pergunakan. Saya mencoba reply barang sekali dua kali, tapi tetap saja saya merasa debat yang terjadi lebih kepada debat kusir. Bagi saya, suatu perdebatan, hendaknya memang diarahkan untuk kerja, bukan NATO (No Action Talking Only).

Berhadapan dengan orang agnostik yang sudah mempersepsikan semuanya dari kacamata negatif (versi saya) memang susah. Semuanya memang diupayakan oleh kaum agnostik ini seilmiah mungkin, tapi tetap saja bagi saya, mereka tidak mampu menjawab perkara-perkara ghaib yang terjadi di sekeliling kita, tapi indra akal sehat dan fisik kita tetap tidak mampu menjangkaunya. Jawaban masalah ghaib yang nyata terjadi di sekeliling kita hanya selalu dijawab, bahwa manusia mengalami ilusi, halusinasi, atau parah lagi, dibohongi.

Suatu pertanyaan saya yang tetap belum bisa dijawab secara “ilmiah” oleh pengikut pemikiran Agnostik ini, “Bagaimana caranya dengan kalimat mantra-mantra tiba-tiba orang bisa terhalusinasi dan kehilangan kesadaran? apakah kalimat mantra tadi memiliki frekuensi tertentu yang membuat manusia jadi linglung dan kemudian menjadi kebal pisau tajam, kesurupan, makan beling, bisa lompat jauh sekali? Apa iya semua penonton dikaburkan matanya cuma dengan ilusi semata, alat optik apa yang dipergunakan sampai mereka semua melihat hal yang sama, orang tiba-tiba bisa kebal tombak yang dihujamkan ke dada mereka, pisau yang tajam sekalipun tak mampu mengiris kulit mereka?“. Kalau saya sih menjawabnya mudah saja, “Paling hanya Jin yang sedang bermain-main dengan mereka.

😉

Anda pernah bertemu dengan orang agnostic ???? Lebih dari sekedar free thinker yang tidak punya agama ….