Di salah satu milis yang saya ikuti, ada cerita (atau mungkin protes), kenapa orang barat yang sekuler, atau mungkin negri Singapura yang mayoritas non muslim, bisa lebih bersih, lebih tertib, lebih disiplin dan seterusnya,  ketimbang negara Indonesia (atau mungkin negri yang mayoritas muslim lainnya).

Satu hal yang pasti, tingkat pendidikan kita yang rendah, suka tidak suka, mau tidak mau juga menjadi salah satu faktor penting "kebobrokan" bangsa kita. Pemahaman agama Islam yang hanya difahami secara "fiqh" saja, dengan implementasi "nol" di lapangan. Padahal, Islam sendiri datang bukan hanya mengurusi masalah fiqh, hadats dan najis, halal dan haramnya sesuatu, tapi dia datang sebagai guidance bagi manusia, yang menjadi ideologi bukan sekedar Undang-undang dan peraturan semata.

Untuk itu, mari kita buat sebuah daftar "kesalahan" yang sering dilakukan oleh muslim, sehingga layak bagi mereka disebut O’on. Sebagai catatan, Muslim yang O’on tidaklah sama dengan Islam, tapi mereka memang O’on terhadap Islam itu sendiri.

1. Kebersihan

Rasulullah SAW bersabda, النظيفة من الايمان

Bahwa kebersihan itu adalah sebahagian dari Iman

Pada kenyataannya, bangsa (muslim) Indonesia, tidaklah memiliki pola kehidupan yang bersih. Ngupil Buang sampah sembarangan dan tidak pada tempatnya, seperti di jalan, di sungai, dilempar dari jendela mobil. Sering bangsa (muslim) Indonesia memprotes pabrik yang membuang limbah secara sembarangan, padahal ternyata polusi yang ditimbulkan limbah rumah tangga juga tidak kalah membahayakan

2. Profesional dalam pekerjaan

Rasulullah SAW bersabda, إن الله يحب إذا عمل أحدكم عملا أن يتقنه

Bahwa Allah mencintai apabila sesorang beramal dengan amalan yang "perfect" (professional)

Harus disadari bahwa budaya menjalankan pekerjaan secara professional belum menjadi ruh bagi pekerja (muslim) Indonesia. Bagaiamana mereka datang jam 9 dari seharusnya jam 8 pagi, kemudian setelah itu sibuk bikin kopi, baca koran pagi, memberikan pelayanan jam 11 pagi, jam 14 loket sudah tutup dengan alasan pekerjaan menumpuk padahal jam tutup kantor jam 16 (pernahkah anda mengalami hal seperti ini? saya pernah !!! ). Bagaimana mungkin bisa maju, jika pekerjaan tidak lah dilakukan secara professional

3. Menghargai waktu

Dalam Islam kita mengenal, الوقت كا السيف

Bahwa waktu adalah sebagaimana pedang; jika dia tidak melukai musuhmu, maka dia akan melukaimu sendiri

Betapa banyak di antara kita yang menyia-nyiakan waktu kita, berlalu begitu saja, tidak pernah berusaha memberikan yang terbaik dengan waktu yang kita punya. Betapa sering (mungkin saya juga termasuk … hiks) kita tidak tepat waktu ketika berjanji, membiarkan orang lain menunggu sampe bulukan, padahal kita sendiri nggak pernah suka kalau nunggu orang lain. Betapa waktu tidak pernah kita sadari keberadaannya

4. Belajar (sepanjang hayat)

Rasulullah SAW bersabda, طلب العلم فرضة على كل مسلم

Menuntut ilmu (hukumnya) adalah  wajib bagi setiap muslim (dan muslimat)

Malangnya, minat baca bangsa kita termasuk rendah (walau Malaysia lebih rendah, kalau kata detik – sayang link URL gak ketemu – ), malas untuk belajar banyak hal, belajar untuk memperbaiki diri, memperbaiki lingkungan, merasa puas dengan yang ada, bahkan menganggap sudah cukup, dan menganggap sudah tahu banyak hal.

Hal yang sering menjangkiti para orang tua di Indonesia, yang menganggap lebih pintar dibanding kaum mudanya (makanya masih pada nyalon presiden, pada kagak nyadar tuh mereka he..he…), padahal sebenarnya mereka kalah pintar. Kenapa? Karena pada malas belajar. Makanya seperti iklan salah satu perusahaan rokok di Indonesia ,"Kalau belum tua, belum boleh bicara", padahal belum pasti yang lebih tua lebih pintar.


Kalau mau ditelusuri lebih banyak lagi, akan makin banyak ke-o’onan, bangsa (muslim) Indonesia, yang mereka sendiri tidak pernah faham dengan apa yang ada dalam Islam itu sendiri. Kalau kata Imam Al Ghazali, bak orang Gila, yang senantiasa melakukan pekerjaan (‘amal) tapi nggak tahu kenapa mereka melakukannya. Sholat, ya sholat, tapi mabuk ya tetap jalan. Zakat ya zakat, tapi korupsi ya tetap jalan. Terlalu banyak embel-embel kebodohan (dari Islam) yang bisa dilekatkan di "jidat" mereka.

Ah, seandainya saja, orang Islam memahami Islam secara benar, tentu mereka akan tahu, bahwa kebaikan, dan kemuliaan ISLAM itu benar-benar exist, nyata keberadaannya. Masalahnya adalah, masih banyak saudara kita yang sengaja menjerumuskan saudara-saudara muslimnya untuk ikut terjerumus ke dalam kebodohan (atas ISLAM) bersama dengan dia. Apalagi dengan melabeli orang yang belajar Islam dengan baik akan menjadi teroris, orang kaku, gak gaul, tidak bisa bermasyarakat, dan seterusnya, dan membuat orang semakin takut untuk belajar lebih giat tentang Islam ini.

Sungguh kasihan sekali umat muslim (Indonesia) …..