Orang yang biasa digencet,
dia pun akan ganti menggencet yang lebih rendah darinya,
sabagai manifestasi ketidakberdayaan dia,
demi mengukuhkan harga dirinya …..

Jangan membiasakan diri “menggencet” orang, karena boleh jadi kita akan menularkan virus “menggencet” tadi ke orang yang kita gencet untuk melakukan pembalasan “penggencetan” ke orang yang lebih inferior dari dia. Budaya yang tidak memunculkan win-win solution, tapi budaya yang mengukuhkan nuansa feodalisme “ndoro” dan “batur“.

Budaya yang tidak menjadikan manusia menjadi setara, seimbang, egaliter, sama di hadapan semua manusia yang lain. Karena kita adalah sama di hadapan Tuhan kita, kecuali yang membedakan adalah takwa yang kita miliki.

Ketika virus itu kita tularkan, setidaknya kita bakal menyumbang amalan dosa bagi diri kita, karena kita telah mengajarkan bagaimana caranya menggencet orang lain. Bak rantai domino yang akan menimbulkan efek kontinuitas perbudayaan penggencetan.

Budaya yang semua orang sebenarnya tidak suka, budaya yang menjadikan kita tidak bisa bekerja secara profesional karena lebih sering makan ati akibat digencet, budaya yang hanya memunculkan dendam semata. Semua orang membencinya, tapi sayangnya sebagian besar di antara kita justru pelakunya.

Adalah seorang pembantu bernama Anas bin Malik r.a yang bekerja untuk Rasulullah Muhammad SAW, dia berkata:

”Aku menjadi pelayan Rasulullah saw. selama sepuluh tahun. Belum pernah dia memukulku satu pukulan pun; tidak pernah membentakku atau bermuka masam kepadaku.”

Hilangkan budaya “PENGGENCETAN” !!!