Jujur saja, di Indonesia saya ndak pernah makan ayam KFC, gak pernah pula menyempatkan diri mampir ke McD, gak pernah pula terdampar di gerai Pizza Hut. Saya memang makan ayam kriuk ala KFC, saya memang makan burger ala McD, dan saya pun makan pizza ala Pizza Hut, tapi untuk datang ke tempat gerai-gerai seperti itu, rasanya sudah malas sekali.

Di Singapura pun, gak pernah juga pergi ke McD, walau di kampus NTU ada McD, yang ada saya ditraktir McD sama teman. Gak juga pergi ke KFC, pernah malam-malam kelaparan sepulang dari tempat teman, rame-rame dengan teman-teman pingin cari makan, yang buka saat itu cuma KFC dan McD, permasalahannya sebagai orang Indonesia, kita semua tidak pernah merasa sudah makan sebelum makan nasi. Sehingga pertanyaan default ketika datang ke KFC, “Is there any rice?” Karena jawabannya tidak ada, ya sudah, mending pulang saja. Sekali lagi, saya terselamatkan dari gerai fast food itu.

Orang juga sudah tahu kalau makanan yang dijual di sana adalah Junk Food, tapi tetap saja didatangi (pas gak ya kalau analoginya disamakan dengan rokok, sama-sama berbahaya buat jantung?). Saya bukan orang yang peduli masalah gengsi atau tidaknya, masalah punya pengalaman ke sana tidaknya, bagi saya tidak datang ke gerai fast food itu juga “gak patheken“. Juga bukan masalah nasionalisme, kalau makan di sana berarti tidak nasionalis, kenapa gak milih Ayam Ny. Suharti dkk. Karena seringkali orang Indonesia lebih mencari gengsi ketimbang mendahulukan akal sehat mereka. Kalau belum ke sana dibilang ndeso dan berbagai macam atribut lainnya.

Ya bagi saya, makan yang lengkap dan bergizi, dengan pilihan sayur yang tepat, apalagi dimasak sama istri, jauh lebih baik daripada makan di tempat Junk Food tadi. Selain alasan saya yang lain lagi, karena harga Junk Food itu MAHAL ! Apalagi di Singapura sini, semua junk food tadi gak ada kawan baiknya, yakni Nasi.

Sekali dua kali boleh saja lah, tapi membiasakan pergi ke sana? Gak mau ah!

terinspirasi tulisannya kang Pura.