Seorang kawan yang keturunan Minang berkata bahwa, seseorang yang mengaku keturunan Minang, maka dia pasti beragama Islam. Karena adat Minang mengatakan bahwa Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Kitabullah. Sehingga bisa dipastikan 100% kalau orang Minang pasti Islam. Lalu jika bukan Islam? Dia tidak bisa disebut orang Minang, akan tetapi orang Sumatera Barat.

Nah, jika kemudian kita lihat, ternyata orang Minang, kadang mereka memiliki nama yang unik. Saya ketika berkenalan dengan beberapa rekan saya yang dari Minang, kadang di awal saya mengira bahwa mereka adalah non muslim, tapi ternyata saya salah. Coba tengok saja nama-nama seperti Remon Lapisa, Andre Suchitra, bahkan ada seorang yang saya kenal, namanya sama sekali tidak memuat huruf vokal, yakni Ryyld. Tapi mereka semua adalah muslim. Ada pula selain nama yang berbau non muslim, adalah nama-nama orang jawa, seperti Djunaidi, dll.

Tentu ini adalah sesuatu yang unik, mengingat sejarah suku Minangkabau yang sangat dekat dengan keIslaman dengan pahlawannya Tuanku Imam Bonjol yang saat itu menghasung aqidah Islam untuk melawan Belanda. Saya kutip dari salah satu milis yang saya ikuti, yakni kampung-ugm, jawaban dari rekan Dewis tentang masalah nama padang tadi.

Mas Komo,
Setelah PRRI, masyarakat jadi trauma, untuk menyelamatkan generasi berikutnya mereka mencari nama menghilangkan identitas minang pada nama anak2nya, mereka punya asumsi kalau anaknya pengin jadi ABRI harus memberi nama seperti orang jawa, konon kabarnya kalau masuk ABRI orang jawa lebih gampang. (Teman2 banyak juga punya nama jawa "Adrianto, Hendra Susilo dan yg disebut mas komo). Dan ada juga yg mengambil nama dari barat tampa mempertimbangkan artinya yang kadang sedikit berbau kristiani, seperti John Vendry, Oktavianus, Erika Mayer, Kristina dll. Akibat PRRI memberi efek psikolgis yg mendalam bagi orang minang.
Salam
Dewis, TK 89

Jadi, mungkin inilah alasannya🙂
Barangkali ada kawan dari suku Minang yang berminat menjelaskannya?