HPIM0548_en2

Kaum difabel (atau disabled di istilah Inggrisnya) memang mendapat perhatian tersendiri, setidaknya itulah yang saya dapatkan di negri Singapura ini. Meski jika diprosentase, barangkali jumlah mereka tidak terlalu banyak, tapi perhatian pemerintah lokal, yang kemudian kebijakan ini diendorse untuk dilaksanakan di setiap pengelola gedung dan akses publik lainnya, betul-betul memperhatikan kaum difabel ini.

Singapura memang bukan negara penganut demokrasi, tapi meskipun demikian, bukan berarti tidak ada perhatian terhadap rakyat. Hal yang mungkin sangat jauh berbeda dengan Indonesia yang penganut demokrasi, pmpakan tetapi karena demokrasi lah, keberadaan kaum ini menjadi terabaikan. Mengapa? karena demokrasi tadi, suara mereka yang sedikit tentu akan kalah denga suara para preman yang lain.

Kepentingan orang-orang ini menjadi terabaikan, bahkan segala sesuatunya hanya menjadi teori PMP (pendidikan moral pancasila) atau PPKN (pendidikan pancasila dan kewarganegaraan) yang saya masih ingat ketika ada kawan yang dapat nilai PPKN tinggi, maka lontaran "Munafik !" (tentu sambil bercanda) terlontar kepada dia. Jadi ingat, saya dulu pernah kena Her (mengulang ujian) PPKN saat kelas satu SMA. Teori yang mengatakan harus membantu orang yang butuh (misal: cacat, orang tua, ibu hamil, dll) ketika mereka membutuhkan bantuan seperti saat menyeberang jalan, duduk di transportasi umum, dll, yang pada kenyataannya tidak pernah kita laksanakan.

Sedikit berbagi, jika anda sempat berkunjung ke Singapura, niscaya akan anda dapati di wilayah publik seperti Stasiun MRT, gedung-gedung, toilet, dan lain sebagainya, akan selalu ada akses bagi kaum difabel ini. Dimulai dari jalan yang khusus disediakan untuk mereka, kemudian ubin yang berbeda dengan jalur umum untuk memudahkan orang yang buta agar juga bisa ikutan ke MRT, kemudian di bus-bus yang baru juga didesain untuk kenyamanan bagi pengguna kursi roda. Bahkan, di tempat ibadah seperti masjid pun (yang bisa anda lihat di gambar atas), juga disediakan tempat bagi para difabel.

Ketika kita kembali kepada ISLAM, kita pun juga diberikan pelajaran, betapa Rasulullah Muhammad SAW pun juga pernah diperingatkan oleh Allah SWT, ketika saat itu lebih memilih untuk berbincang ke petinggi Quraisy ketimbang berbicara dengan seorang buta yang bernama Abdullah Ibnu Ummi Maktum. Dari situ dapat kita lihat, penghargaan terhadap kaum difabel pun sangat diperhatikan oleh Allah SWT.

Kira-kira kapan penghargaan itu bisa diberikan oleh rakyat dan penguasa Indonesia?