Pertanyaan ini dimunculkan dalam salah satu trailer acara di Channel 5 Singapura, yang sayangnya saya lupa judulnya. Dalam trailer acara televisi itu, dimulai dari dialog/diskusi dari beberapa orang wanita yang telah bercerai dengan suaminya. Di antaranya ada yang bercerita, bahwa suaminya lebih tertarik ke wanita yang lebih muda sehingga kemudian meninggalkan dia, kemudian wanita yang lain lagi juga komplain tentang suaminya….bla..bla..bla..

Kira-kira acara itu memang seputar para istri yang sakita hati karena merasa suaminya tidak loyal terhadap mereka. Kemudian di ujung trailer acara itu, si mbak yang jadi host acara menutup trailer dengan membandingkan antara yang pertama, anjing, dan yang kedua laki-laki. Dia bertanya kepada penonton, “Who is more loyal? This one (sambil menunjuk anjingnya) or that one (sambil menunjuk si lelaki)”. Kira-kira yang diungkapkan seperti itu. (mengenai kalimat yang exact saya gak terlalu memperhatikan, tapi inti trailernya seperti itu.

Di kesempatan lain, masih di televisi yang sama, ada sebuah tampilan iklan di televisi yang mengiklankan layanan iklan online berbasis video, di sana ditunjukkan seorang wanita profesional (kira-kira umurnya masih antar 20an-30an), yang membutuhkan kawan. Dia berjanji untuk selalu pulang jam 7 malam, dia orangnya bersih, rajin memasak, dan seterusnya. Hingga di akhir iklan, ternyata kawan yang dia cari adalah seekor anjing, karena dia baru saja kehilangan anjing yang setia menemaninya.

Sekitar 3 pekan yang lalu, saya berbincang dengan seorang kawan yang baru mengambil master di NUS (National University of Singapore), yang dia bercerita tentang hasil penelitian salah seorang profesor di NUS yang meneliti kehidupan wanita muda Singapura, yang dikatakan bahwa kecenderungan menikah di antara wanita muda Singapura mengalami penurunan, di saat yang sama, semakin banyak di antara mereka yang memelihara anjing untuk menemani mereka. Mereka berkilah, bahwa mengurus anjing jauh lebih mudah ketimbang “mengurus” suami, yang kadang suka protes, kadang suka ini, kadang suka itu, dll. Sementara, anjing tidak pernah protes, cukup diberi makan, dimandikan, dst.

Tingkat kepercayaan wanita di Singapura (dan barangkali di negara maju lainnya) terhadap makhluk bernama lelaki ternyata semakin lama semakin memudar. Ketika kecenderungan untuk lebih memilih “hidup” bersama anjing ternyata jauh lebih besar ketimbang memilih teman hidup dengan spesies yang sama, yakni laki-laki. Ketika jiwa kemanusiaan mulai memudar, ketika materialisme dan uang telah menjadi Tuhan baru bagi mereka. Ketika hidup bersama dengan manusia menjadi suatu hal yang merepotkan dan mengganggu kebebasan hidup mereka.

Ketika Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan berpasangan, mereka lebih memilih untuk keluar dari fitrah kemanusiaan mereka. Mungkin mereka memang bukan manusia kali.