Dulu sekali ketika saya masih ngaji awal-awal di salafi, saya masih ingat betul mengenai pentingnya seorang muslim untuk tidak bertaqlid. Dan hingga kini pun, alhamdulillah, saya masih ruju’ terhadap pendapat bahwa seorang muslim dilarang bertaqlid, karena jika dia bertaqlid tidak ubahnya seperti yang dikatakan dalam Alquran:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah. [Alquran Surah AtTaubah :31]

Ada juga perkataan dari Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala  yang juga saya pegang terhadap taqlid ini:

Barangsiapa yang ta’ ashub kepada seseorang, dia kedudukannya seperti orang-orang Rafidhah yang ta’ashub kepada salah seorang sahabat, dan seperti orang-orang Khawarij. ini adalah jalan ahli bid’ ah dan ahwa’ yang mereka keluar dan syari’at dengan kesepakatan umat dan menurut Kitab dan Sunnah, yang wajib kepada semua makhluk adalah ittiba’ kepada seorang yang ma’shum (yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam) yang tidak mengucap dan hawa nafsunya, yang dia ucapkan adalah wahyu yang diturunkan kepadanya”

Begitu juga dengan perkataan Imam Malik:

Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa benar dan keliru. Lihatlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesual dengan Kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah

Dalam rangka mengimplementasikan anti taqlid ini, maka saya banyak belajar dari banyak ustadz. Tidak mendikotomi antara ustadz yang satu dengan ustadz yang lain. Tidak pula mengharamkan suatu buku dari buku yang lain. Karena saya tidak ingin seperti katak dalam tempurung yang tidak banyak tahu apa-apa.

Untuk yang satu ini, dengan "sangat menyesal" saya dulu tidak ikut anjuran kakak-kakak senior saya ketika ngaji di salafi yang melarang saya untuk membaca bukunya Dr. Yusuf Qardlawi pun membaca pula bukunya Sa’id Hawwa, sebagaimana pula saya yang juga rajin membaca Kitab Tauhid dan juga Fathul Majid. Yang justru dengannya Alhamdulillah, pencerahan demi pencerahan bisa didapatkan.

Ketika pada akhirnya ada klaim dari Salafi yang mengatakan matahari mengelilingi bumi (silakan cari sendiri di Google ya, sengaja saya tidak pasang permalink agar tidak dianggap bikin kisruh lagi), dunia blogosphere pun ikut heboh. Setiap kali ada sanggahan terhadap teori aneh mereka, mereka selalu mengatakan kami berpegang kepada nash (Saya pun berpegang pada nash, hanya saja saya memahaminya berbeda. Ketika dikatakan matahari berjalan, saya pun juga mengatakan matahari berjalan/beredar), sementara hujjah lain senantiasa dikatakan menyalahi nash.

Hingga pada akhirnya ketika sedang blogwalking, saya terdampar di blog ikhwan salafy yang ada di sini. Saya cut salah satu disclaimer beliau pada penjelasan beliau yang mencabut tulisan yang ada sebelumnya tentang bukti-bukti "teori" heliosentris:

Tulisan yang membeberkan bukti ilmiah rotasi dan revolusi Bumi itu cukup kontroversial jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa saya sedang belajar untuk bermanhaj salaf. Salafiy saat ini banyak menjadi perhatian karena terbitnya buku tulisan Ustadz Ahmad Sabiq hafidhahullah (yang saya cintai karena Alloh) yang berjudul “Matahari Mengelilingi Bumi, Sebuah Kepastian… dst. Dan jauh sebelum buku beliau terbit, ulama kami yang terhormat Al ‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah (juga yang saya cintai karena Alloh) telah memberikan fatwa yang kesimpulannya menegaskan bahwa Matahari Mengelilingi Bumi.

Keberanian Ahmad Sabiq (dan para pendukungnya) yang mengatakan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi adalah KEPASTIAN DALAM ALQURAN, ternyata menggelisahkan kawan-kawan salafi yang lain yang masih bisa berfikir jernih bahwa "teori" heliosentris adalah sebuah kenyataan empiris. Saya kira Ahmad Sabiq pun hanya menelan mentah-mentah pendapat Syaikh Utsaimin Rahimahullahu ta’ala tanpa berusaha menelaah kajian ilmiah berdasar fakta yang ada.

Saya sebenarnya mendukung ikhwan salafi yang saya sebut di atas untuk tetap memuat tulisannya tentang teori heliosentris dalam blognya (dalam benak saya, IMHO, saya kira ikhwan salafi tersebut masih lebih berat terhadap fakta heliosentris ketimbang fatwa geosentris yang diyakini salafi). Justru dengan demikian, dia akan membuktikan bahwa dia pun tidak sekedar ima’ah (ikut-ikutan) bahkan mungkin taqlid dengan pendapat ustadznya. Justru kalau dia mencabut tulisan tadi, akan semakin membuktikan bahwa salafi sebenarnya tidak melakukan ittiba’ instead mereka justru malah melakukan taqlid terhadap pendapat ulama mereka (bak menjilat ludah sendiri).

Dan ternyata beliau memilih untuk mencabut tulisan tersebut dengan alasan sebuah kekhawatiran, kekhawatiran dia bahwa dia sedang belajar Salafi dan sementara di sisi lain menulis di blognya tentang fakta ilmiah heliosentris (yang dalam ini tentu berbeda dengan fatwa geosentris yang menjadi mainstream Salafi) akan menjatuhkan muru’ah (kehormatan) salafi, saya kira berlebihan. Dia khawatir salafi akan diserang, sebagaimana saya cut dari blognya:

Dan karena (saya rasa) cukup kontroversial itu, saya akhirnya memutuskan untuk menariknya. Keputusan itu saya lakukan dengan pertimbangan bahwa saya tidak ingin kelak ada pihak-pihak yang (mungkin) memanfaatkan tulisan saya untuk menghantam bahkan mencela teman-teman saya, saudara-saudara saya yang sama-sama sedang berusaha menjadi salafiy (yang saya cintai karena Alloh lebih dari kebanyakan orang di dunia ini).

Sebenarnya, jika beliau tidak mencabut tulisannya, beliau akan membuktikan bahwa Salafi pun bisa berbeda pendapat, mereka masih mengikuti Imam Malik yang malah memerintahkan pengikutnya untuk menyelesihi dia sekiranya pendapatnya salah sebagaimana yang sudah saya sebut di atas. Bahwa berbeda pendapat bukanlah suatu aib. Bahwa para sahabat pun berbeda pendapat dalam banyak urusan pun tidak bisa kita ingkari. Ya kan? Dan jika konsisten dengan kesalafiannya yang mana berada di atas jalan para sahabat (yang juga berbeda pendapat), seharusnya dia tidak perlu khawatir untuk menjadi salafi yang berbeda dengan ustadznya.

Akan tetapi beliau memilih untuk mencabut tulisannya sayang sekali. Kalau demikian caranya, pantas saja ketika orang mengatakan sebenarnya yang taqlid justru kawan-kawan di salafi, yang melarang pengikutnya untuk mendapatkan pengetahuan dan pemahaman lain selain dari ustadz-ustadznya sendiri maupun buku-bukunya sendiri, dengan senjata ampuh mereka, bahwa golongan lain adalah sesat dan menyesatkan.

Am I right? or Am I wrong??

NB: tulisan yang dicabut itu masih disimpan di Temboloknya google yang bisa diakses di sini.