Di dalam ruangan sebuah rumah sakit, terdapat dua orang pasien. Keduanya memiliki penyakit yang cukup serius. Setiap sore hari, dua pasien ini beristirahat sembari berbincang tentang pengalaman kehidupan masing-masing.

Setiap petang, salah seorang pasien yang kebetulan tempat tidurnya berada di dekat dengan Jendela, dia menjelaskan apa saja yang terjadi segala keindahan yang nampak di luar jendela sana.

“Jendela ini berhadapan dengan sebuah kolam yang indah, sekelilingnya ada pepohonan serta bunga yang berwarna-warni. Anak-anak kecil bermain dengan riang gembira. Burung-burung beterbangan, sungguh pemandangan yang indah dan permai,” dia berkata kepada pasien yang berada di sebelahnya.

Laki-laki tersebut menjelaskan dengan begitu menarik, sehingga pasien satunya dapat membayangkan suasana yang ada di luar jendela rumah sakit itu. Setiap kali dia menyampaikan suasana tadi, pasien yang satunya menjadi bersemangat dan menjadi ceria mendengar gambaran yang indah tadi.

Suatu sore, ketika keduanya sedang berbincang-bincang, tiba-tiba terlintas di benak lelaki yang tempat tidurnya jauh dari jendela. “Kenapa dia saja yang mendapat kesempatan untuk melihat pemandangan yang indah itu. Kenapa aku tidak?”. Dia pun mulai dirasuki perasaan cemburu. Dia berfikir seharusnya rumah sakit dapat berlaku adil, dengan menjadikan dia dan lelaki yang berada di dekat jendela bergiliran tempat, sehingga dia pun dapat merasakan kesenangan yang sama. Akhirnya, karena api cemburu menderanya, segala apa yang disampaikan kawannya menjadi hambar tak berasa, dan rasa cemburu mulai menutupi segala keindahan yang ada.

Selang beberapa hari kemudian, dia memperoleh kabar bahwa kawannya telah meninggal. Bukan bersedih, justru dia menjadi riang hati karena berarti ada kesempatan bagi dia untuk berpindah tempat. Dan dia berfikir dapat menikmati segala pemandangan yang selama ini hanya dia dengar saja. Beberapa waktu kemudian, dia pun meminta rumah sakit untuk memindahkan dia dari tempat tidurnya yang sekarang.

Sore itu, lelaki tadi menegakkan badannya yang lemah, hanya untuk melihat pemandangan di luar sana.

Di hadapannya hanyalah sebuah tembok kosong belaka.

______
disadur dari majalah Nadi, MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura), edisi July-September 2007.