Membaca postingan mBah Dipo di sini, pipi ini serasa digaplok. Sebagai seorang muslim yang mengaku sebagai mu’min, kadang sering kembali kita harus mengevaluasi kembali dan melakukan studi kelayakan kembali, pantas tidaknya kita diberi status sebagai seorang mu’min (sila merujuk pada surat Al Hujurat, di sana ada beda loh antara muslim dengan mu’min).

Panggilan puasa dalam Alquran hanyalah ditujukan kepada orang-orang mu’min, yang di dalam hatinya ada keimanan, lha iman kita sendiri cuma seberapa sih? Kadang nikmatnya iman sebagaimana yang disebut oleh mbah Dipo babar blas alias tidak ada sama sekali dalam diri ini. Segala amalan hanya menjadi penggugur kewajiban. Nggak nambah barang sedikitpun rasa cinta kepada Yang Maha Kuasa, yang ada malah menambah derita karena beban tadi.

Iman memang naik dan turun, lumrah, lha kita memang manusia biasa, bukan malaikat. Akan tetapi jika iman tadi diletakkan dalam suatu kuadran, semestinya keimanan itu senantiasa ada dalam kuadran positif saja. Seturun-turunnya iman ya mestinya di kuadran positif, Lha kita?? Barangkali lebih sering iman ini berada dalam kuadran negatif, hanya kadang-kadang saja dia beranjak ke kuadran positif, tapi itu pun sejenak sahaja, selebihnya, minus terus😦

Indikasinya dalam Ramadhan saya kira semua kita juga sudah tahu, giliran awal puasa, semua rame-rame pergi ke Masjid, giliran akhir puasa, semua rame-rame pergi ke Pasar/Mall/dkk. Padahal justru di akhir-akhir itulah keberkahan puasa Ramadhan semakin memuncak, dengan lailatul qadar sebagai reward, tapi apa lacur, karena tidak merasakan nikmatnya iman (halawatul iman), yang ada malah kegembiraan karena Ramadhan akan segera berpulang.

Ramadhan yang semestinya jadi tempat membersihkan jiwa manusia yang penuh dengan noda, malah jadi madrasah persiapan untuk kemaksiatan selanjutnya. Makanya sudah puluhan tahun puasa, nggak ngefek sama sekali. Barangkali kita memang sudah terlalu bebal?