Well, kalau urusan ngisi kultum, pengajian kecil-kecilan, atau pun ketika disambi ngobrol disambi minum kopi hangat, pisang goreng plus kacang rebus di buk (jembatan kecil, di atas gorong-gorong) atau pun warung angkring, mungkin Alhamdulillah bagi saya bukanlah suatu perkara yang susah. First of all, karena saya memang lebih sering menyampaikannya dengan bahasa nasional yakni bahasa Indonesia dan bahasa ibu saya, yakni bahasa Jawa. Kemudian, saya lebih mudah mengungkapkan segala padanan istilah kata yang mungkin.

Tapi, ketika harus menyampaikan dalam bahasa Inggris (yang tentu saja harus fluent), ternyata memang menjadi sebuah tantangan tersendiri. Kalau masalah berbicara harian dalam bahasa Inggris, memang tidak terlalu bermasalah, apalagi saya seorang engineer, yang kadang di antara kita tidak terlalu meributkan masalah pilihan kata dan segala macam tetek bengek lainnya, apalagi dalam kitab engineering, boleh dibilang bahasanya memang secara umum universal. Tapi yang dihadapi kemarin sore adalah audience komunitas muslim Internasional, yang otomatis, apa yang harus disampaikan pun dalam bahasa Inggris.

Beberapa kali saya bertanya kepada audience, apa padanan kata yang tepat dalam bahasa Inggris, yang alhamdulillah ketika disampaikan dalam bahasa Arab, mereka semua tahu. Sebagai contoh, ghibah, yang bahkan dalam bahasa Indonesianya pun tidak ada padanan kata yang tepat, kecuali gabungan beberapa kata, kalau dalam bahasa Jawa mudah, yakni ngrasani, coba ada yang tahu bahasa Indonesianya? Gosip? kurang tepat, (nge)Rumpi? itu setahu saya bukan bahasa Indonesia yang baku, nah apalagi ketika saya harus menyampaikannya in English. Wew…

Selain itu, saya biasa ketika bicara di depan publik, kadang diselingi dengan joke-joke, yang tentu saja tidak setiap joke dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan bebas ke bahasa Inggris. Apa mungkin kita menerjemahkan kalimat Ada Udang di Balik Bakwan …. ?😀 Ini juga menjadi tantangan tersendiri.

Alhamdulillah, secara umum kemarin bisa (paling tidak menurut penilaian saya sendiri 🙂 ), kultum yang saya sampaikan bisa diterima dan difahami oleh rekan-rekan muslim Internasional di NTU. Paling tidak ukurannya orang yang native-nya Inggris (muslim dari Kanada), bisa memahami. Karena umumnya ketika kita berbicara dengan native, mereka lebih mudah untuk tidak faham apa yang kita omongkan, ketimbang berbicara dengan orang yang native-nya bukan Inggris (mungkin karena sama-sama memahami bahasa Inggrisnya jelek, jadinya malah jadi bisa faham apa yang diomongkan).