Dua hari yang lalu, di sore hari, bareng sama istri kita naik MRT dari Queenstown mau balik ke Boon Lay. As usual, kita selalu cari di pintu ke empat dari ujung barat, biar nanti pas sampai boon lay deket sama eskalator turun.

Begitu MRT tiba, pintu kebuka, suasana lumayan penuh. Ada beberapa orang yang pingin keluar, tapi berhubung di tengah2 pintu ada yang bawa stroller bayi, jadinya agak ribet sedikit. Kebetulan baru ada dua siswi secondary (semacam SMP lah kalau di Indo), yang baru ngobrol rame. Melihat ada yang mau keluar, salah satu siswi tadi bergeser mundur dikit. Tapi mungkin karena sibuk nggosip ngobrol, dia tidak gitu memperhatikan jalan. Mundur dikit, dan kemudian tiba-tiba kaki kanannya terperosok ke dalam gap antara platform dan MRT. Dia cuma teriak sebentar, abis itu mungkin karena shock, dia terdiam sambil meringis.

Agak heran juga, gap yang sebenarnya nggak terlalu besar bisa kemasukan kakinya, sementara dia sendiri menurutku agak bongsor badannya. Nah, tragedi hampir saja terjadi, nampaknya masinis gak terlalu perhatian dengan kejadian yang sedang terjadi. Tiba-tiba terdengar suara peringatan pintu mau ditutup. Alhamdulillah, karena kebetulan kita posisinya deket dengan masinis MRTnya, aku langsung lari. Habis itu, ngetuk jendelanya pak masinis, tapi ternyata tidak sekali, karena masinisnya baru dengerin MP3 nampaknya. Kuketuk yang kedua lebih keras lagi, baru dia noleh. Aku bilang, “someone is trapped on the gap …“. Alhamdulillah, pintu gak jadi ditutup, dan MRTnya gak jadi jalan.

Tapi yang bikin gemes, bukannya kemudian ngliatin kondisi korban, si masinis MRT malah bilang “Sorry…sorry…” beberapa kali, loh apa hubungannya sorry-sorry sama kejadian tadi. Ya gak nyambung.

Untunglah saat itu ada beberapa yang menolong. Wah, hampir saja kita menyaksikan kejadian memilukan, seandainya pintu tetap tertutup dan MRTnya terus jalan.