Tulisan ini merupakan tulisan lama sekali yang tertunda, baru sempat ketulis sekarang.

Sebenarnya tidak ada perbedaan yang banyak antara sholat Jum’at di Singapura dengan sholat Jum’at di Indonesia. Mungkin yang paling kentara di sini, sebagian besar masjid adzan dua kali, tidak seperti di Indonesia yang campuran, dimana sebagian adzan hanya sekali, sementara yang ada juga yang adzan dua kali.

Untuk melaksanakan sholat Jum’at di Singapura bukanlah perakara yang sulit, kecuali bagi mereka yang tinggal di daerah West (seperti saya), banyak Masjid yang bertebaran di seantero Singapura. Kemanapun kita pergi (terutama di daerah city), insya Alloh Masjid bukan kendala berarti. Walaupun tentu saja tidak seperti di Indonesia yang bisa ditemukan dengan mudah setiap sekian ratus meter sekali.

Masjid-masjid di Singapura banyak yang menawarkan makan siang bagi para Jama’ahnya, hal ini bisa dimaklumi karena istirahat siang yang mulai jam 1 sampai dengan jam 2 tidaklah ditambah karena hari Jum’at. Sehingga banyak pegawai kantoran yang kemudian makan siang di Masjid. Karena mereka tentu saja tidak sempat lagi untuk mencari makan siang di luar.

Satu hal yang paling kusukai dari masjid-masjid di Singapura adalah, baik pentadbir masjid (takmirnya) maupun para jama’ah di sini, sudah membiasakan diri dengan shaf yang lurus dan rapat. Tidak seperti di Indonesia, yang banyak sekali jama’ah kadang membawa sajadah besar, yang sering mengakibatkan shafnya tidak bisa rapat, perkara merapatkan shaf adalah merupakan hal yang jamak dan lumrah di sini. Hampir sebagian besar sholat jama’ah (terutama Jum’at yang kulihat di sini), para jama’ahnya langsung merapatkan shafnya.

Mengingat salah satu kesempurnaan sholat berjama’ah adalah lurus dan rapat, maka di awal sholat tidak henti-hentinya imam mengingatkan jama’ah untuk merapatkan shaf makmumnya. Di Indonesia sebenarnya juga sudah dilakukan, akan tetapi biasanya (at least sampai saya meninggalkan Indonesia) jama’ahnya pada suka ngeyel, disuruh merapatkan tetap saja tidak mau rapat. Hal yang lazim ditemui, ada sholat berjama’ah shafnya tidak bisa rapat. Pasti ada saja yang bolong-bolong. Hanya di beberapa masjid saja, seperti masjid-masjid di sekitar kampus yang bisa merapatkan shaf dengan baik. Lain itu biasanya tidak.

Semestinya kaum muslim di Indonesia memperhatikan hal yang kelihatannya kecil ini. Karena sholat berjama’ah yang dilakukan tidak akan sempurna kecuali dengan lurus dan rapatnya shaf ini.

Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berjuang di jalanNya dengan bershaf-shaf laksana bangunan yang kokoh.

Well, kokohnya bangunan Islam ini setidaknya bisa kita lihat dari “kokohnya” sholatnya. Jika bolong-bolong, tidak rapat, tentu bangunan itu akan mudah lapuk dan roboh.