Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya

Terus terang, walaupun sering ngeblog, tapi aku bukanlah blogger yang rajin berkunjung, alis blog walking. Hanya beberapa blog saja yang aku kunjungi, tapi kemarin aku benar-benar “ketanggor” sama blognya mbah Dipo. Biasanya kalau membaca blog sambil lalu saja, tidak kemudian diresapi dengan mendalam. Intinya just for fun lah.

Tapi, membaca blognya mbah Dipo, benar-benar membuatku terkagum. Sebagai orang Jawa, yang juga tidak lepas dari filosofi Jawa, blog mbah Dipo benar-benar mampu memberikan nasihat tanpa menggurui dan membego-begokan orang lain apalagi sampai menganjing-anjingkan.

Pitutur sebagaimana alamat webnya, benar-benar memberikan pitutur (nasehat/ungkapan) yang benar-benar sejuk dalam bahasa yang sederhana, namun memberikan kedalaman makna. Jika menarik kembali ke belakang ketika Nabi menyampaikan dakwahnya, tidak ada kata-kata kasar dan keras yang muncul dari beliau, yang ada adalah kelembutan dan kesabaran. Bahkan hal ini pun telah diungkapkan dengan jelas dalam Alquran di surat Ali Imran 159 seperti yang kutulis di preambule tulisan ini.

Layaknya seorang simbah dengan asam-garam perjuangan, mbah Dipo merangkai kata demi kata yang menyederhanakan permasalahan yang boleh jadi rumit dan kompleks. Sehingga kata-kata itu menjadi mudah difahami oleh “anak-cucunya”, meski demikian beratnya isi dari kata-kata itu tetaplah muncul. Ibarat kalau dalam Alquran, disebut sebagai Qoulan Tsaqiila yakni perkataan (yang sederhana tapi) berat.

Terkadang cara penyampaian yang kaku, tidak fleksibel, cenderung berkutat pada sanad dan matan (penting, tapi nggak cocok buat dikasih ke orang-orang dengan cara berfikir yang simple seperti saya ini …๐Ÿ˜€ ), menjadikan orang malah kemudian lari. Sebagai contoh, esensi dari Tauhid adalah mengesakan Alloh SWT, meniadakan sekutu. Ini yang pokok, bagi orang Islam, asal sudah bener-bener mentauhidkan Alloh SWT selesai, titik.

Tapi kemudian ada sebagian orang (misalnya: SAYA ๐Ÿ˜› ), kadang memaksakan bahwa setiap orang harus tahu apa itu Tauhid Uluhiyyah, apa itu Tauhid Rubbubiyah, apa itu Asma’ wa Shifat, lha kalau orang nggak suka nggak nyampe pikirannya dengan segala macam tetek bengek “ilmiah-ilmiah” itu, ya malah pergi. Persis dengan kita belajar tajwid, yang penting bisa mbaca Alquran dengan benar, kalau mad ya dibaca panjang, kalau idhar dibaca jelas, asal mbacanya bener sudah selamet. Tanpa harus memahami dan menghafalkan definisi apa itu idgham, apa itu iqlab, apa itu ikhfa’.

Lha jaman nabi dulu, para Sahabat (CMIIW, sampai saat ini saya belum pernah nemu hadits yang isinya Nabi berkata bahwa Tauhid itu dibagi jadi Uluhiyyah, Rubbubiyah, dan Asma’ wa Shifat dst…) juga nggak diajari definisi apa itu Uluhiyyah, apa itu Rubbubiyah, apa itu Asma’ wa Shifat, tapi mereka Tauhidnya paling beres di antara generasi lain. Karena mereka menjalankan Tauhid itu dengan benar yang sudah mencakup ketiga-tiganya. Titik.

Sekali lagi, saya perlu belajar lebih banyak dari mbah Dipo, untuk menuturkan Islam ini ke tengah masyarakat saya dengan cara sebaik-baiknya.