Suatu ketika, di saat masih awal-awal SMA, kebetulan duduk dengan temen dari Sukoharjo. Ada satu kata yang saat itu terlontar dari lisanku, “Wah bajigur kii…”, ungkapan umpatan yang biasa diucapkan anak-anak dari jogja, ketika ada masalah yang muncul. Dengan terkaget-kaget, teman tadi bilang, “Wah ndri, rusuh banget to kowe ki ….”, “Lha ngopo e, kan aku mung ngomong bajigur to ?”, “Wah nek nek nggonku, kuwi wis rusuh banget je …”

Saat itu heran juga, masa’ kata-kata bajigur kok dianggap rusuh (jorok) sekali, bukannya lebih kasar kalau mengucap a*u, b*j*ng*n, bahkan bajigur kan nama salah satu minuman khas Jawa Barat.

Nilai rasa dan nilai bahasa setiap tempat mungkin berbeda, kata apapun untuk mengungkapkan umpatan, apapun itu seperti shit, damn, anjrit, bajigur, telo, asu, kadal, tobil, gajah, asem, katrok, bajingan, tetap saja ada satu nilai universal yang sama. Apapun ungkapan umpatan itu, dalam berbagai bahasa, dalam berbagai jenis kata dan maknanya, tetap saja dia tidak merubah jenisnya, yakni UMPATAN. Umpatan dalam beragam bentuknya jelas-jelas adalah sesuatu yang telah dilarang,

?????? ??????? ???????? ????????


Kecelakanlah bagi setiap pengumpat dan pencela ! – Al Humazah : 1 –


Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan untuk terus menerus mengulang dan mempelajari ayat ini, sehingga sekarang telinga ini terus terang risih banget, kalau ada orang yang demikian murahnya mengobral kata-kata umpatan, seakan-akan dia hendak menyalahkan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dengan mengungkapkannya dalam bentuk mengumpat. Apalagi jika umpatan itu ditujukan untuk mengumpati orang atau kelompok lain karena ketidaksukaan dia dengan orang atau kelompok tersebut.

Sungguh, lisan inilah yang paling banyak membawa manusia dalam kebinasaan.
 Just be careful guys ….