Terus terang karena sejak 2006 berada di LN, baru tahu kalau ada buku yang konon katanya menggemparkan dunia Islam di Indonesia, yakni buku Matahari Mengelilingi Bumi, karya Ahmad Sabiq (katanya dari Al Irsyad, Surabaya).

Di beberapa blog, banyak rekan salafi yang mendukung beliau habis-habisan🙂. Saya tidak hendak mengkritisi tulisan itu, karena sudah banyak website blog yang membahasnya. Bagi saya Matahari yang berjalan sesuai garis edarnya, dalam pemahaman saya memang benar adanya, Allah berkata haq dan tidak mungkin salah. Bahwa Matahari memang betul-betul beredar, hanya dia beredar mengikuti pusat tata-surya dia, yakni tata-surya yang lebih tinggi, boleh jadi dalam kasus ini adalah galaksi bima sakti (milky way).

Saya hanya tertarik lebih jauh mengenai hujjah lain yang juga dipakai oleh rekan salafi yang mendukung tentang teori ini, bahwa bumi adalah diam dan tidak bergerak, dia tidak berotasi.

“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam …” (QS. An Naml : 61).

Mereka mengatakan bahwa dengan diamnya bumi ini, maka inilah yang membuat bumi menjadi tenang, tidak berguncang, dan tidak bergerak.

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk” (QS. An Nahl : 15)

Dalil di atas juga memperkuat pendapat mereka.

Tapi, saya memiliki pendapat yang berbeda dengan yang kemudian dijadikan pengambilan kesimpulan oleh rekan salafi tersebut. Kalau kita masih ingat pelajaran tentang bumi, di bawah bumi itu ada magma cair panas (ingat setiap turun 100 meter ada kenaikan suhu 1 derajad Celcius), dan sesuai sunatullah, magma karena benda cair, dia akan mudah sekali bergerak, yang berbeda dengan benda padat, yang relatif diam di tempat. Magma yang bergerak ini memiliki jumlah volume yang sangat besar sekali, pergerakan mereka ini tentu sangat mungkin sekali mempengaruhi segala sesuatu yang berada di atasnya.

Kalau masih ingat lagi pelajaran tentang bumi, kerak bumi yang kita tempati ini, dibandingkan dengan diameter bumi, sangatlah jauh perbandingannya. Sehingga kita bisa mengibaratkan kerak bumi laksana kulit telur yang sangat tipis dibandingkan dengan isinya. Kembali ke gerakan magma, gerakan magma ini karena tertutup oleh kerak bumi, akan menimbulkan tekanan-tekanan yang kuat di dalamnya. Tekanan ini jika tidak disalurkan, akan mengguncang stabilitas bumi. Tekanan ini bisa kita lihat secara jelas di laut, penyelam ketika dia menyelam, dan secara tiba-tiba naik ke atas, dia akan terkompensasi tekanan di sekitarnya, akibatnya bisa semaput dia. Makanya, kapal selam itu dibuat untuk mampu menahan tekanan bumi sampai pada kondisi tertentu, kalau dia menyelam lebih dalam, dia bisa hancur. Sehingga bisa kita bayangkan, seberapa besar tekanan di dalam bumi ini.

Karena itulah Allah SWT, menciptakan gunung-gunung, sebagaimana An Nahl 15, adalah dalam rangka melepaskan tekanan-tekanan yang terjadi di dalam bumi. Gunung api ketika meletus, maka dia akan melepaskan tekanan-tekanan di dalam bumi secara bertahap, mirip ketika kita melepas sumbat balon, maka balon akan mengempis dengan smooth, bandingkan ketika balon kita tusuk dengan jarum, maka tekanan di dalam balon akan terlepas dengan hebatnya yang menjadikan balon meletus. Bisa diibaratkan ketika tekanan dalam bumi dilepas begitu saja, tidak disalurkan secara smooth dan bertahap, maka bumi ini suatu ketika akan hancur berkeping-keping laksana balon yang meledak.

Dengan inilah, maka Allah SWT, menjaga bumi tetap diam dan tidak bergerak, karena tekanan yang ada di dalam bumi disalurkan oleh sekian ribu gunung berapi yang muncul di permukaan untuk melepaskan tekanan-tekanan yang ada di dalam bumi. Tapi tidak bergerak di sini bukan berarti bumi tidak berotasi. Justru Allah SWT menunjukkan kepada kita, walaupun bumi ini senantiasa bergerak, tapi dia diam bagi manusia. Sebagaimana ayat lain, tentang bagaimana bumi ini dihamparkan (laksana datar bagi manusia, padahal dia adalah bulat). Jadi ingat waktu kajian salafi jaman dulu yang ngotot bahwa bumi ini datar, karena menurut Alquran bumi itu dihamparkan, but kelihatannya fatwanya sudah berubah deh🙂.

Kemudian alasan yang lain, kalau kita masih ingat hukum Newton, tentang hukum kelembaman, sesuatu yang bergerak cepat kemudian tiba-tiba berhenti, maka dia akan memberikan reaksi berupa “mentalnya benda tersebut”. Jika tanda-tanda kiamat adalah matahari terbit dari barat, maka matahari harus berhenti bergerak mengitari bumi untuk kemudian berbalik arah, dan akibatnya segala sesuatu yang berada di atas matahari akan terlempar dan boleh jadi matahari hancur duluan.

Tapi kalau menurut saya, sebagaimana dalam surat Al Qariah, ketika kiamat terjadi, manusia laksana anai-anai, gunung-gunung seperti bulu yang dihamburkan, justru ini memperkuat pendapat, bahwa bumi itu berotasi. Manusia dapat bertahan di atas muka bumi ini karena ada gaya tarik bumi (gravitasi), ketika bumi tiba-tiba berbalik arah (mengakibatkan matahari terbit dari barat), maka berlakulah ketetapan Allah SWT (yang dimanifestasikan melalui hukum kelembaman newton), segala sesuatu yang tadinya bergerak sangat cepat  dan tiba-tiba berhenti, (kita tidak merasakan gerakan, mirip ketika naik motor, apakah kita merasakan bahwa kita bergerak ??? kita tetap diam duduk di atas jok sepeda motor, tapi motornya lah yang bergerak, ketika tiba-tiba ngerem, biasanya badan kita atau kalau kita mbonceng, pasti akan terdorong) maka benda-benda yang ada di atas bumi, akan kemudian terlontar dari atas permukaan bumi, karena bumi berjalan sangat cepat, dan ketika tiba-tiba harus berbalik arah rotasi, maka segala sesuatu yang tadinya berada di atasnya akan segera terlontar ke atas laksana anai-anai, sesuai ketetapan Allah dalam hukum fisika tadi.

So, kalau bumi diam saja, bagaimana mungkin manusia dan gunung bisa terlempar ke atas?

Wallahu a’lam …