Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya.

Siang itu siang yang lumayan terik, cuaca Jogja cukup panas. Sehabis kuliah dari kampus, dan nyelesain rapat di Mushalla, dia memacu kendaraannya ke salah satu sudut kota Jogja, untuk datang di sekolah di depan pasar sapi. Ya, hari itu dia janjian untuk mengisi kelompok kecil binaannya dengan diskusi Islam. Pas, saat itu bubaran sekolah ketika dia sampai di sana. Satu per satu, bertemulah dia dengan anggota kelompok binaannya, say-say hello dulu, dengan di antaranya ada yang bilang, “Mas, saya izin dulu, ada rapat OSIS”, yang lain ,”Saya makan ke kantin dulu mas”, yang lain ,”di ruang MPK (majelis perwakilan kelas) kan mas? ya nanti saya datang ke sana”.

Ruang itu terletak di dekat lapangan basket, yang siang itu suasanya cukup ramai. Karena selepas pulang dari sekolah, biasanya siswa-siswa banyak beraktivitas disana, mulai basket, futsal, atau ngobrol-ngobrol karena memang di dekat lapangan itu, berderet-deret ruangan ekstrakurikuler siswa. Ruang yang kecil, dengan minim perabot.

Diskusi pun dimulai, dengan tilawah, kultum, dan dilanjutkan dengan diskusi pembahasan materi tentang pemuda Islam. Yang tadi izin terlambat pun mulai berdatangan, tapi ternyata masih ada juga yang ndak datang-datang. Sekilas pintu ruang itu terbuka, dan … ehhhh ternyata yang tadi bilang, “di ruang MPK kan mas ?”, sedang bermain sepakbola di lapangan basket. Setelah diskusi selesai baru dia datang, “Wah sudah selesai ya …?”, come on kemana aja tadi?😀

Peristiwa yang terekam kuat dalam ingatan dia, karena persitiwa yang sama pun terjadi sekian tahun silam, dan dia sendiri sebagai pelakunya. Ketika mas Alumni sudah datang, sudah janjian, eh malah melarikan diri. Dimaafkan? Jelas iya, dia sendiri pun dulu seperti itu …he..he..

dicatat baik-baik peristiwa itu dalam lembaran shahifahnya, Jangan isti’jal (buru-buru), setiap orang memiliki keterikatan hati dan cara berfikir yang berbeda-beda

(to be continued ….)