Bukannya saya pingin berpolemik tentang istinja’ dengan tissue atau dengan air. Sudah banyak yang membahas, dan umumnya tidak masalah dengan hal itu. Tapi saya pingin coba melihat dari sisi yang lain. Urusan toilet memang menjadi urusan yang paling penting. Kalau pingin melihat kebersihan seseorang atau suatu rumah, maka yang pertama dilihat biasanya toiletnya. Ya kan?

Back to toilet, sudah jamak jaman sekarang ini, banyak sekali toilet yang menyediakan tissue sebagai sarana membersihkan diri alias beristinja’ setelah membuang “hajat”. Dimana-mana kita dengan akan mudah menemukannya, apalagi kalau tinggal di negara-negara maju. Hampir semua toilet pasti pake tissue, termasuk Singapura ini.

Tapi jujur, saya paling nggak nyaman kalau disuruh istinja’ pake tissue, bukan apa-apa, tapi jumlah tissue yang harus saya “hamburkan” untuk beristinja’ kok rasanya banyak sekali. Kalau mengingat bahwa kertas tissue juga diproduksi sebagaimana kertas-kertas lain, yakni dari pohon, rasanya untuk beristinja’ ini seperti merasa menebang berpuluh-puluh pohon hanya untuk membersihkan sedikit dari kotoran yang ada. Berbeda ketika beristinja’ dengan air, cukup dengan beberapa guyuran air, insya Allah sudah bersih. Lha ini, kalau pake tissue, walaupun sudah mencoba seefektif mungkin, tidak dipungkiri, berlembar-lembar tissue tetap harus keluar. Kalau membayangkan pohon-pohon yang ditebang itu, maka juga terbayang, berapa liter air yang tidak bisa disimpan oleh tanah karena hasil tebangan itu.

Kedua, kalau melihat toilet yang pake tissue, lebih sering kudapati suasana toilet yang jorok. Kadang ada orang yang tidak berusaha membersihkan dengan baik tissue yang mereka pakai, atau mungkin pake terus ada yang terjatuh di sekitar tempat buang air, otomatis basah, nah gak mungkin dibuang kan? Menunggu cleaning service membersihkan, dan kejadian ini tidak hanya sekali saja terjadi. Di banyak tempat, seperti di kampus, di stasiun, di hotel, semuanya tetep saja sama. Dan kesannya toiletnya jadi jorok karena tissue-tissue yang bertebaran.

Karena itu, saya tetep lebih prefer pake toilet yang ada floss nya, jadi bisa pake air untuk membersihkan, selain rasanya lebih mantap, toilet juga lebih bersih. Yang sayangnya, toilet dengan floss gini ndak banyak ditemui di Singapura, kecuali di masjid-masjid.

Sekarang lebih ramah lingkungan dan cinta kebersihan yang mana, tissue atau air??