sahurBagi yang tinggal di desa (apalagi desanya cukup religius), tentu suasana Ramadhan yang semarak bakal terasa. Setiap pagi ada ramai orang yang berseru…”Sahuuur….Sahuuuur”, malah dulu sempat ada Ring Tone sahur-sahur.

Kebiasaan ini ternyata menarik perhatian seorang anak kecil Melayu singapura. Membanjirnya siaran-siaran TV Indonesia di Singapura, cukup banyak mempengaruhi pula pandangan, bahasa, dari masyarakat Melayu sini. Nah salah satu yang membekas di pikiran si anak melayu ini adalah tentang kebiasaan di Indonesia yang membangunkan orang-orang untuk sahur dengan teriakan “Sahuuuur….sahuuuur”.

Dia sangat excited, dengan kegiatan itu. Sampai dia bilang ke ibunya, untuk menjual rumahnya yang di Singapura, untuk pindah ke Indonesia. Karena di sini suasana yang seperti itu sama sekali tidak pernah ditemukannya. Terbayang di matanya, suasana Ramadhan yang berbeza, yang tidak seperti di Singapura, yang ramai orang, ramai pula orang berjualan untuk berbuka puasa, dll.

Untuk tarawih saja di sini tidak bisa dengan mudah, apalagi bagi saya yang tinggal di daerah Jurong West, masjid yang terdekat di wilayah Jurong adalah Asy Syakirin di Jurong East, sehingga kita sholat tarawih di Kolong (void deck) dari HDB. Berbeda tentu saja rasanya dibanding sholat di masjid, tapi sama sekali tidak mengganggu kekhusyu’an dalam sholat kita (catt: orang melayu sini jarang menyebut sholat, tapi sembahyang), walau hanya di bawah kolong, tapi semangat nya cukup bagus.

Tak heran, ketika si Anak melihat TV suasana ramadhan di Indonesia, dia tanpa ragu berujar ke ibunya untuk menjual rumah dan pindah ke Indonesia (belum tahu padahal di Indo seperti apa…:)). Sekedar info, sebuah rumah HDB 3 kamar seluas kira2 110 meter persegi harganya kira 200ribu SGD (plus minus 1,2 Milyar Rupiah).

Sungguh, kenikmatan mendengar suara adzan bersahutan, ramai orang menyambut ramadhan, harus disyukuri, ketika kehilangan, barulah terasa…