Juli-Agustus 2001, untuk pertama kalinya jadi guru TPA. Seumur-umur aku hidup di lingkungan masjid, di lingkungan mushola, tapi belum pernah jadi guru TPA (habis kalau di TPA ngajarnya pake Iqro’, aku kan ndak dibesari pake iqro’, masih pake yang namanya TURUTAN ..he…he..alasan aja broer). Saat dua bulan itu, tepatnya saat KKN di daerah nan dingin di dekat Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, aku ngajar TPA.

Sekian tahun berlalu, dan 5 years later, once again I become a teacher who teach Alquran (catt: aku ndak pernah lagi nulis Al-Qur’an, karena kalau di arabkan bakal ketemu huruf Alif (?)-Qaf (?)-Ra (?)-‘Ain (?) tanda petik menurut konvensi adalah huruf ‘Ain Nun (?), padahal Alquran arabnya adalah ?????? )

Alloh memberi kesempatan kepadaku untuk mengajarkan Alquran ke anak-anak melayu yang masih lucu-lucu itu. Cerita ini menyambung posting sebelumnya. Setiap Jum’at malam, insya Alloh kita belajar mengaji. Kemaren, sebelum maghrib, kulihat mereka semua sudah bersiap-siap. Meski untuk ambil air wudhu aja, harus kembali membuka buku pelajaran wudhu (duh nelangsane rek…udah gedhe masih belum bisa wudhu). Yang paling semangat si Aimi yang masih 5 tahun, dia semangat banget ikut belajar ngaji.

Diawali dengan Al Fatihah, aku pingin ngecek apakah mereka sudah hafal Al Fatihah, ternyata masih belum lancar, ya sudah kutarget malam itu hafalan Al Fatihah dan belajar mengucapkan huruf hijaiyah. Oh ya, murid-muridku ada empat, paling gedhe udah 13 tahun, paling kecil 5 tahun. Supaya mereka lebih mudah menghafal huruf-huruf, kita mulai dengan nasyidnya SP (A – Ba – Ta -Tsa – Ja – Ha – Kho ….yang ada naek sepeda mini itu). Ternyata mereka seneng menghafal sambil nyanyi (jadi inget, hafal nama nabi-nabi gara-gara nasyidnya Raihan, sebelumnya ndak pernah hafal-hafal …qk.qk). Waktu berputar, sampai akhirnya pelajaran diakhiri di waktu isya’.

Sembari mengajar mereka, aku teringat saat kecil dulu, bagaimana mas sepupuku dan (alm) bapak mengajari ngaji. Syukur yang tidak terhingga karena merekalah, aku bisa mengaji (alhamdulillah) dengan baik. Kadang sedih sekali, melihat kawan-kawan sebaya yang (banyak sekali) tidak bisa membaca Alquran dengan baik, bahkan sebagian ada yang tidak bisa baca Alquran sama sekali.

Kulihat ekspresi wajah murid-muridku, ada sebuah semangat yang besar, walau mereka boleh dibilang terlambat belajar Alquran, kulihat di wajah mereka, panji-panji Islam kelak ada di tangan mereka, sanggupkah mereka bertahan “melawan zaman” di Singapore, yang memang very though for Malay people.

Perjalanan mereka masih panjang, aku (paling) hanya beberapa tahun di sini, sementara mereka (maybe) seluruh kehidupannya akan dihabiskan di sini. Dengan godaan yang berat, tuntutan kehidupan yang (kadang) menyulitkan (atau dibuat sulit) mereka, untuk menjalankan sholat, puasa, tidak berjudi, tidak minum arak…

Aku hanya bisa berdo’a, apa yang kulakukan ini, semoga bisa membawa perubahan muslim Singapore yang semakin baik, Islam akan menjadi nafas dan denyut kehidupan bagi kaum muslim di sini, tidak berhenti dengan LABEL, aku adalah Melayu, maka aku ISLAM