Belum bisa dikatakan orang Singapura jika belum membawa “senjata” khas orang Singapura. Dua “senjata” ini sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis dan letak Singapura yang terletak di dekat garis Ekuator serta kondisi transportasi di sini.
Kedekatan dengan ekuator ini membuat Singapura mendapat sinar matahari terus sepanjang tahun, maka tidak heran jika cuaca di sini sangat panas, orang Jawa bilang “Oalaah….puanase ra njamak-jamak“. Masih ingat pelajaran SD? Panas ini menyababkan air laut menguap, air laut menguap, dan kemudian berkumpul menjadi awan. Awan ini kemudian akan menyebabkan hujan. Nah di singapore ini, hujan sangat tidak dinyana-nyana, keliatannya sih mendung sekali, eh tahunya tiba-tiba jadi panas, kebalikannya, keliatannya panas, eh tahu-tahu hujan. So, senjata pertama mereka adalah payung. Apalagi di Singapore, hujan turun sepanjang tahun, ndak kenal musim (ini kata orang sini sih, belum buktiin).
Kemudian yang kedua, karena most of Singaporean menggunakan Mass Rapid Transport System (di sini namanya SMRT), sehingga untuk mencapai destinasi, mereka bakal sering jalan kaki, setelah turun dari stasiun maupun di bus stop. So, jalan kaki pastinya nguras tenaga dong, makanya ndak heran, kalau kemana-mana mereka bakal bawa yang namanya botol air, dan diisi at least dengan air putih lah.
Nah dua senjata ini sangat bermanfaat sekali ketika kita travelling di Singapore ini, mau jalan kemana-mana tidak perlu khawatir kehausan, kalau hujan tiba-tiba datang, kita tidak perlu khawatir, bisa tetep melanjutkan perjalanan karena payung ada bersama kita.

Including me, now in my backpack, I never forget to bring those two “weapons”😀
Happy travelling in Singapore